Merawat Tanah dan Jalan Sunyi Wahyudin Mengubah Wajah Kalongliud
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelar sarjana akuntansi biasanya mengantarkan seseorang untuk bekerja di gedung-gedung perkantoran di kota besar. Namun jalan berbeda dipilih Wahyudin. Pemuda kelahiran 1988 itu justru kembali ke kampung halamannya di Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, serta memilih memegang cangkul dan sepatu bot.
Keputusan pria yang akrab disapa Kang Wahyu ini lahir dari kegelisahan panjang. Bertahun-tahun ia menyaksikan desanya berada dalam bayang-bayang aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Tekanan ekonomi dan kerusakan infrastruktur irigasi akibat bencana yang terjadi pada 2020 membuat sebagian warga nekat mencari nafkah di lubang-lubang tambang. Mereka pun mempertaruhkan nyawa demi penghasilan yang tak menentu.
"Kekhawatiran atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi penggerak saya untuk berkontribusi di Kalongliud. Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI," kata Wahyu dalam keterangannya, dikutip Senin (23/2/2026).
Bagi Wahyu, jawaban atas krisis itu sebenarnya berada tepat di bawah kaki mereka sendiri, yakni tanah pertanian yang sempat ditinggalkan. "Pencegahan PETI tidak cukup hanya dengan penertiban. Masyarakat butuh alternatif ekonomi yang lebih aman dan layak," tegas Wahyu.
Gayung bersambut pada 2022. Kegelisahan Wahyu sejalan dengan visi PT ANTAM Tbk UBPE Pongkor yang menghadirkan program inovasi sosial Garitan Kalongliud. Namun, Wahyu tidak sekadar menjadi penerima manfaat. Dia memilih berdiri di garis depan, memimpin Kelompok Taruna Muda dan mengajak pemuda desa menghidupkan kembali 35 hektar lahan terlantar.
Tantangan di lapangan ternyata tidak mudah. Sebab, harga pupuk kimia melonjak, hama keong mas menyerang padi, dan pasokan air terbatas. Namun bagi Wahyu, masalah adalah ruang lahirnya inovasi.
Berbekal pelatihan dari ANTAM, dia menginisiasi pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Beko yang merupakan hasil fermentasi keong mas dan urin domba. Langkah tersebut, ditambah pemanfaatan 25 ton limbah kotoran domba sebagai pupuk organik, sehingga berhasil memangkas biaya pupuk hingga 50%.
Untuk menjawab krisis air, Wahyu bersama warga merakit sistem irigasi tetes sederhana yang mampu menghemat penggunaan air hingga 60%. Tidak berhenti pada budidaya, Wahyu juga turut mendobrak ketergantungan petani terhadap tengkulak. Dalam konteks ini, Kelompok Taruna Muda diposisikan sebagai fasilitator pasar yang memangkas rantai distribusi dan menjual hasil panen langsung ke Pasar Induk Kemang dan Kramat Jati. Dampaknya signifikan, lantaran pendapatan kelompok tani tersebut meningkat 65%.
Sepanjang 2024-2025, unit usaha cabai yang dikelola bersama kelompoknya membukukan keuntungan bersih Rp 246.258.000. Namun bagi Wahyu, angka hanyalah sebagian cerita. Program ini menjadi jaring pengaman sosial bagi anggota kelompok sebagai penerima manfaat langsung, maupun bagi masyarakat lainnya. Hal yang paling membanggakan adalah 8 mantan pelaku PETI kini telah beralih menjadi petani produktif.
Secara makro, inisiatif kolaboratif bersama ANTAM mencatatkan nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 4,34 serta berkontribusi menurunkan tingkat kemiskinan desa sebesar 6,52%. Atas dedikasinya, Wahyu dianugerahi Environmental and Social Innovation Award (ENSIA) 2025 sebagai Local Hero Inspiratif.
Kini, semangat itu terus menyala melalui Rumah Belajar Garitan yang telah dikunjungi lebih dari 696 orang. Dia juga berhasil mendorong regenerasi petani muda, termasuk Atang Sujai yang kini aktif menyempurnakan formula pupuk organik untuk desa-desa sekitar.
Bagi Wahyu, gelar sarjana dan penghargaan nasional bukanlah puncak pencapaian. Justru, kemenangan terbesarnya adalah melihat tetangganya pulang ke rumah dengan selamat, membawa hasil keringat yang halal.
"Kalau kita merawat tanah dengan hati, tanah akan merawat kehidupan kita. Dan kalau kita bergerak bersama, desa ini akan selalu punya harapan," tandas dia.
source on Google [Gambas:Video CNBC]