Internasional

Trump Tekan Zelensky, Ukraina Mulai Perundingan Damai dengan Rusia

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Rabu, 18/02/2026 09:00 WIB
Foto: Catur terlihat di depan bendera Rusia dan Ukraina. (REUTERS/Dado Ruvic)

Jakarta, CNBC Indonesia - Delegasi dari Ukraina dan Rusia telah menyelesaikan hari pertama dari dua hari agenda perundingan damai yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) di Jenewa pada Selasa (17/2/2026) waktu setempat. Dalam proses negosiasi ini, Presiden AS Donald Trump dilaporkan terus memberikan tekanan kepada Kyiv agar segera bertindak cepat guna mencapai kesepakatan demi mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat tahun tersebut.

Tepat sebelum negosiasi di Swiss dimulai, Rusia melancarkan serangan udara semalam di berbagai wilayah Ukraina yang menyebabkan kerusakan parah pada jaringan listrik di kota pelabuhan Odesa. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa serangan tersebut telah menyebabkan puluhan ribu warga kehilangan akses terhadap pemanas ruangan dan air bersih.

"Kami siap bergerak cepat menuju perjanjian yang layak untuk mengakhiri perang. Pertanyaannya bagi Rusia adalah: Apa sebenarnya yang mereka inginkan?" ujar Zelensky dalam pidato malamnya sembari menunggu laporan dari tim negosiasi di Jenewa, dilansir Reuters.


Ketua delegasi Ukraina sekaligus Kepala Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional, Rustem Umerov, menyampaikan bahwa pembicaraan pada hari pertama ini difokuskan pada isu-isu praktis dan mekanisme dari kemungkinan keputusan yang akan diambil. Meski tidak memberikan rincian lebih lanjut, ia mengonfirmasi bahwa negosiasi akan dilanjutkan pada hari Rabu sebagai hari terakhir.

"Delegasi bekerja tanpa ekspektasi yang berlebihan," kata Umerov dalam pernyataannya yang meredam harapan akan adanya terobosan besar dalam waktu singkat di Jenewa.

Di sisi lain, pejabat Rusia tidak memberikan komentar resmi terkait jalannya pembicaraan. Namun, laporan dari kantor berita Rusia yang mengutip seorang sumber menyebutkan bahwa suasana diskusi berlangsung sangat tegang selama enam jam dalam berbagai format pertemuan bilateral maupun trilateral.

"Kedua belah pihak setuju untuk melanjutkan diskusi pada hari Rabu," tutur sumber tersebut kepada agensi berita terkait situasi di ruang perundingan.

Pertemuan di Jenewa ini merupakan kelanjutan dari dua putaran pembicaraan sebelumnya di Abu Dhabi yang berakhir tanpa hasil signifikan karena kedua pihak masih berselisih tajam mengenai kendali wilayah di Ukraina timur. Donald Trump kini mendesak Moskow dan Kyiv untuk segera menyepakati perdamaian, meskipun Zelensky mengeluhkan bahwa negaranya menghadapi tekanan lebih besar untuk memberikan konsesi.

Trump secara terang-terangan memberikan peringatan kepada Ukraina saat ditanya oleh awak media mengenai apa yang ia harapkan dari pembicaraan hari Selasa tersebut. Ia menekankan pentingnya kecepatan bagi pihak Kyiv dalam mengambil keputusan di meja perundingan.

"Ukraina sebaiknya segera datang ke meja perundingan dengan cepat. Hanya itu yang saya katakan kepada Anda," tegas Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One.

Dalam dinamika ini, perwakilan pemerintah Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, bertindak sebagai mediator. Kehadiran mereka di Jenewa juga bertepatan dengan upaya negosiasi krisis global lainnya yang melibatkan pejabat Iran pada pagi hari, sebelum akhirnya menyeberangi kota untuk memediasi konflik Ukraina dan Rusia.

Rusia tetap pada tuntutannya agar Ukraina menyerahkan sisa 20% wilayah Donetsk di timur yang belum berhasil dikuasai Moskow, sebuah poin yang ditolak keras oleh Kyiv. Zelenskiy pun kembali menyerukan kepada para sekutu untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia melalui sanksi yang lebih berat dan pasokan senjata agar tercapai kesepakatan damai yang adil.

Kekhawatiran terhadap niat Rusia juga disuarakan oleh warga sipil Ukraina yang terdampak langsung oleh invasi. Oksana Reviakina, seorang pengungsi dari kota Melitopol yang kini diduduki Rusia, menyatakan keraguannya terhadap proses diplomasi ini saat berlindung di stasiun metro Kyiv.

"Seseorang tidak seharusnya mempercayai Rusia sepenuhnya, bahkan sedikit pun tidak boleh," ungkap Reviakina saat dimintai tanggapan mengenai pembicaraan damai tersebut.

Perundingan di Jenewa ini berlangsung hanya beberapa hari menjelang peringatan empat tahun invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada 24 Februari mendatang. Sejauh ini, Rusia masih menduduki sekitar 20% wilayah nasional Ukraina, termasuk Krimea dan sebagian wilayah Donbas, sementara serangan infrastruktur energi terus membuat ratusan ribu warga Ukraina hidup tanpa pemanas di tengah musim dingin yang ekstrem.


(tps/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Cuaca Ekstrem, Rusia Mau Setop Sementara Serangan ke Unkraina