MARKET DATA
Internasional

Trump Bikin Rusuh NATO, Diam-Diam Dunia di Ambang Perang Hipersonik

luc,  CNBC Indonesia
16 February 2026 12:00
Presiden AS Donald Trump berbicara pada konferensi pers, saat Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio berdiri di dekatnya, pada pertemuan puncak NATO di Den Haag, Belanda, 25 Juni 2025. (REUTERS/Brian Snyder)
Foto: Presiden AS Donald Trump berbicara pada konferensi pers, saat Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio berdiri di dekatnya, pada pertemuan puncak NATO di Den Haag, Belanda, 25 Juni 2025. (REUTERS/Brian Snyder)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan hubungan Amerika Serikat dengan sekutu-sekutu tradisionalnya di Eropa dan Kanada kembali menjadi sorotan ketika konferensi keamanan terbesar di dunia digelar di Munich, Jerman, akhir pekan lalu. Di tengah suasana diplomatik yang memanas, ancaman Presiden AS Donald Trump untuk "mengambil alih" Greenland bulan lalu masih membekas dan dinilai telah mengguncang kepercayaan lama dalam kemitraan pertahanan NATO.

Meski Trump kemudian menarik kembali ucapannya, pernyataan tersebut tetap menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan negara-negara demokrasi Barat. Ancaman itu dianggap menantang fondasi kerja sama pertahanan trans-Atlantik yang telah terbangun puluhan tahun.

Namun di balik hiruk-pikuk politik tersebut, para pakar menilai ada isu keamanan yang jauh lebih krusial dan jarang dibicarakan secara terbuka, yakni dunia sedang memasuki era baru senjata hipersonik yang berpotensi mengubah peta risiko strategis bagi negara-negara Barat.

"Kita perlu mulai berbicara tentang era hipersonik dan bagaimana kita akan menghadapinya di kawasan utara," kata Troy Bouffard, profesor Keamanan Arktik di University of Alaska Fairbanks, kepada Newsweek, dikutip Senin (16/2/2026).

Trump sebelumnya hanya menyebut alasan keamanan secara umum ketika menyinggung Greenland, dengan mengatakan AS perlu menghadapi meningkatnya aktivitas China dan Rusia di Arktik serta menyebut keberadaan "kapal-kapal" mereka tanpa bukti rinci. Namun Bouffard menilai Trump gagal menjelaskan alasan pertahanan yang paling mendasar, yakni ancaman senjata hipersonik.

Menurut Bouffard, justru itulah sebabnya AS membutuhkan akses yang terjamin ke Greenland, terlebih wilayah itu berada di jalur menuju kemerdekaan sehingga masa depan perjanjian pertahanan bisa menjadi tidak pasti. "Peran Greenland pada masa Perang Dingin sangat berbeda dengan perannya di era hipersonik ini," ujarnya.

Era Berbahaya Baru

Senjata hipersonik dianggap sebagai ujung tombak berikutnya dalam teknologi militer. Rusia dan China diketahui telah lama mengembangkan sistem ini.

Berbeda dengan rudal balistik, senjata hipersonik dapat bermanuver di udara, terbang rendah mengikuti kontur bumi, bahkan mengubah arah, sehingga sangat sulit dideteksi dan dicegat. Rudal ini dapat membawa hulu ledak nuklir maupun non-nuklir.

Rusia telah menggunakan senjata hipersonik dua kali dalam perang di Ukraina, termasuk satu rudal yang jatuh di dekat kota Lviv di Ukraina barat, hanya sekitar 40 mil dari perbatasan Polandia, pada Januari. Moskow juga telah menguji teknologi ini di Laut Barents, kawasan Arktik.

Dalam hampir semua aspek, hipersonik dinilai lebih unggul dari rudal balistik karena terbang di ketinggian lebih rendah, lebih lincah bermanuver, dan memiliki kecepatan ekstrem yang memungkinkan menembus sistem pertahanan.

Untuk menghadapi ancaman ini, AS membutuhkan rangkaian teknologi baru, termasuk sensor darat yang mampu melacak dan "menguasai" pergerakan rudal, kata Bouffard. Menurutnya, AS tidak bisa sepenuhnya bergantung pada satelit karena performanya berbeda di wilayah utara, di mana satelit cenderung masuk orbit kutub dan membutuhkan peralihan ke satelit lain.

Karena itu, teknologi berbasis darat seperti radar "over the horizon" yang memantulkan sinyal ke ionosfer untuk mendeteksi objek di luar jangkauan radar konvensional menjadi sangat penting.

"Itu yang akan bekerja di sana," ujar Bouffard. "Kamu harus memiliki cukup banyak sensor yang bisa melakukan triangulasi dan mengatasi perbedaan waktu untuk memahami di mana rudal berada dan ke mana arahnya."

Sementara itu, Andrea Charron, Direktur Centre for Defence and Security Studies di University of Manitoba, menilai sistem pertahanan terhadap hipersonik masih berada pada tahap awal pengembangan.

Namun Bouffard mengatakan teknologi itu sedang dirancang dengan Greenland sebagai lokasi utama di masa depan. Karena itu, AS memerlukan akses jangka panjang ke wilayah tersebut untuk membangun sistem pertahanan baru dan "mengulang" kerangka pertahanannya secara menyeluruh.

Pandangan serupa disampaikan P. Whitney Lackenbauer, profesor di Trent University dan pakar keamanan Arktik. Ia mengatakan AS perlu melihat sistem keamanan generasi berikutnya, termasuk kendaraan hipersonik dan hyperglide.

"Kita tahu bahwa AS akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk membela diri jika menghadapi ancaman eksistensial," kata Lackenbauer.

Ia juga menyoroti keputusan Departemen Pertahanan AS tahun lalu yang memindahkan Greenland dari komando Eropa ke Komando Utara AS, langkah yang menarik wilayah itu lebih dekat ke belahan bumi barat dan menandakan meningkatnya kekhawatiran.

Lackenbauer mengingatkan adanya perjanjian keamanan tahun 1951 antara AS dan Denmark. "Jika Greenland suatu hari keluar dari perjanjian itu, maka kalkulasi ancaman bagi AS akan berubah," katanya.

"Apakah ada sesuatu yang bisa diberikan Denmark dan Greenland kepada AS untuk meyakinkan bahwa mereka akan memiliki hak akses jangka panjang?" tanyanya.

Menurutnya, hasil ideal adalah "perjanjian jangka panjang yang menjamin akses dan hak AS di Greenland".

Negosiasi Sunyi

Sejak Trump menarik ancaman pengambilalihan Greenland pada pertengahan Januari, AS dilaporkan melakukan negosiasi tertutup dengan Denmark dan Greenland. Para pejabat AS belum mengungkap secara detail isi pembicaraan tersebut, namun ada indikasi bahwa teknologi canggih seperti hipersonik menjadi bagian dari diskusi.

Dalam sebuah konferensi Arktik di Tromso, Norwegia, awal Februari, Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt tampaknya menyinggung isu tersebut ketika mengatakan kelompok itu sedang "membahas kemampuan yang bahkan belum memiliki istilah".

Ketika ditanya apakah itu termasuk senjata hipersonik, Motzfeldt tidak menjawab secara langsung. Ia hanya menyatakan bahwa Greenland menyadari kewajiban keamanannya kepada "barat dan selatan", yakni Amerika Utara.

Perjanjian keamanan antara AS dan Denmark yang berusia 75 tahun masih berlaku hingga kini. Namun Bouffard menilai era pertahanan baru dapat menuntut kesepakatan yang lebih luas atau baru, terutama jika Greenland meraih kemerdekaan.

"Greenland benar-benar dan sepenuhnya sangat krusial bagi keamanan nasional Amerika Serikat dan Kanada," tegasnya.

Adapun sebelum keberangkatannya ke Munich pada Jumat, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan isu Greenland akan dibahas dalam pertemuan akhir pekan tersebut. Menurutnya, pembicaraan sejauh ini berjalan positif.

"Kami sedang mengerjakannya. Kami merasa baik tentang itu," ujar Rubio. Ia menambahkan bahwa para pemimpin Eropa ingin memperoleh kejelasan tentang arah hubungan keamanan dengan AS.

"Mereka ingin tahu ke mana kita akan pergi, ke mana kita ingin pergi, dan ke mana kita ingin pergi bersama mereka," katanya. "Ini penting, dan saya pikir ini berada pada momen penentuan."

Rubio juga menggambarkan perubahan global yang cepat. "Dunia berubah sangat cepat di depan mata kita. Dunia lama sudah pergi... dan kita hidup di era baru geopolitik, yang akan menuntut kita semua meninjau ulang seperti apa peran kita ke depan," ujarnya.

Sementara itu, meski dunia memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian, Lackenbauer menegaskan bahwa peran sekutu lama tetap tidak tergantikan.

"Penilaian yang realistis menunjukkan bahwa Anda bekerja dengan sekutu untuk memaksimalkan pertahanan dalam negeri. AS lebih kuat bersama NATO daripada berdiri sendiri," katanya.

 

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tetangga RI Tiba-Tiba Ikut Latihan Nuklir Rusia Bareng Iran, Kenapa?


Most Popular
Features