Eropa Terancam Sekarat, Para Pemimpin UE Gelar Rapat Darurat
Jakarta, CNBC Indonesia - Para pemimpin Uni Eropa dijadwalkan mengadakan diskusi terbuka di sebuah kastel di Belgia pada hari Kamis (12/2/2026) waktu setempat. Pertemuan ini bertujuan untuk memastikan blok tersebut tidak tertinggal secara ekonomi dari Amerika Serikat (AS) dan China, atau terhimpit oleh tarif dan pembatasan ekspor dari para pesaing globalnya.
Uni Eropa saat ini tengah menghadapi tantangan besar mulai dari perang dagang Donald Trump hingga pembatasan ekspor mineral kritis oleh China. Kondisi ini terjadi di saat blok tersebut membutuhkan kekayaan yang lebih besar untuk melakukan dekarbonisasi, mendigitalkan ekonominya, serta memperkuat pertahanan terhadap Rusia.
Pertumbuhan ekonomi Uni Eropa terpantau terus tertinggal dibandingkan Amerika Serikat dan China. Selain itu, produktivitas serta inovasi Uni Eropa di berbagai bidang teknologi masa depan, seperti kecerdasan buatan (AI), dinilai masih jauh dari harapan.
Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa, akan menjamu para pemimpin dalam sebuah pertemuan curah pendapat atau "retreat" di kastel Alden Biesen abad ke-16 di Belgia Timur untuk membahas langkah nyata yang harus diambil. Mantan Perdana Menteri Italia, Mario Draghi dan Enrico Letta, yang merupakan penulis laporan berpengaruh tahun 2024 tentang tantangan daya saing Uni Eropa, turut diundang untuk membagikan pandangan mereka.
Laporan Draghi telah dijadikan cetak biru yang harus diikuti Uni Eropa, namun lembaga pemikir European Policy Innovation Council menyatakan baru 15 persen dari rekomendasinya yang telah dilaksanakan. Meskipun demikian, sekitar 50 persen rekomendasi lainnya dilaporkan telah dilaksanakan sebagian atau sedang dalam proses pengerjaan.
Pertemuan ini akan fokus pada agenda diversifikasi perdagangan Uni Eropa yang ambisius dan penyederhanaan regulasi yang selama ini dikeluhkan oleh pelaku usaha. Fokus lainnya adalah memperdalam pasar tunggal Uni Eropa yang saat ini masih terfragmentasi.
Enrico Letta menyatakan bahwa pesan utamanya kepada para pemimpin adalah untuk berkomitmen pada tenggat waktu penyelesaian pasar tunggal pada tahun 2028.
"Saya pikir itu adalah satu-satunya cara untuk menanggapi Trump dan tekanan eksternal yang dialami Uni Eropa dari China, Rusia, dan AS dalam berbagai cara," kata Letta kepada Reuters.
Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa dirinya ingin para pemimpin berkomitmen pada jadwal yang jelas pada KTT berikutnya di bulan Maret mendatang. Sehari sebelum pertemuan di kastel tersebut, para CEO industri telah berkumpul di kota pelabuhan Antwerp untuk menyuarakan keresahan mereka.
Sekitar 900 perusahaan telah menandatangani deklarasi yang menyerukan tindakan berani dan mendesak demi menyelamatkan ekonomi kawasan.
"Meskipun situasinya mengerikan, hasilnya bukanlah sesuatu yang tidak bisa dihindari," tulis pernyataan resmi dari 900 perusahaan tersebut.
Direktur penelitian di think tank CEPS, Andrea Renda, menilai Eropa masih bisa bersaing dengan China dan AS melalui koordinasi dan pragmatisme yang lebih kuat. Menurutnya, Eropa memiliki keterampilan, modal, perusahaan rintisan inovatif, serta kualitas hidup untuk menarik talenta terbaik.
"Apa yang hilang, selain integrasi pasar modal yang dalam, adalah prioritas pendanaan di bidang-bidang unggulan, daripada menyebarkan sumber daya terlalu tipis di seluruh wilayah Uni Eropa," ujar Renda.
(tps/luc)