Presiden Lolos dari Upaya Pembunuhan di Udara, Ini Kronologinya
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Kolombia Gustavo Petro mengungkapkan dirinya nyaris menjadi korban pembunuhan saat melakukan perjalanan dengan helikopter pada Senin (9/2/2026) malam. Petro menyebut insiden itu memaksanya mengubah rute penerbangan secara drastis demi menghindari ancaman serangan.
Dalam rapat kabinet yang disiarkan langsung pada Selasa (10/2/2026) waktu setempat, Petro mengatakan helikopter yang ditumpanginya tidak dapat mendarat di tujuan semula di kawasan pesisir Karibia karena adanya informasi kredibel bahwa ada pihak yang "akan menembaki" pesawat tersebut.
Akibat ancaman itu, helikopter terpaksa terbang menjauh ke arah laut lepas selama sekitar empat jam sebelum akhirnya bisa mencapai lokasi aman. Petro menggambarkan pengalihan rute tersebut sebagai upaya lolos dari rencana serangan yang sudah disiapkan.
Petro tidak menyebutkan siapa pihak yang diduga berada di balik rencana pembunuhan itu. Hingga kini, otoritas Kolombia juga belum mengumumkan secara resmi identitas individu atau kelompok yang terkait dengan insiden tersebut.
Presiden hanya mengatakan bahwa selama beberapa bulan terakhir dirinya telah menerima berbagai peringatan soal potensi ancaman dari jaringan perdagangan narkoba dan kelompok bersenjata lainnya, meski tidak ada bukti spesifik yang diungkap terkait peristiwa Senin malam.
Adapun Petro selama ini kerap mengaitkan ancaman terhadap dirinya dengan organisasi kriminal, termasuk kartel narkoba dan kelompok bersenjata yang menolak perjanjian damai.
Sumber keamanan pemerintah Kolombia sebelumnya menyebut sejumlah faksi ilegal seperti pembangkang kelompok gerilya FARC, Tentara Pembebasan Nasional (ELN), serta kelompok paramiliter Gulf Clan, pernah terlibat dalam berbagai rencana serangan terhadap presiden.
Kelompok-kelompok tersebut masih aktif di wilayah penghasil kokain dan kerap dituding sebagai dalang berbagai aksi kekerasan di Kolombia.
Meski insiden terbaru terjadi di wilayah lepas pantai, dugaan ancaman sebelumnya termasuk laporan ditemukannya senjata anti-tank di sekitar istana presiden, serta rencana menargetkan pesawat Petro dengan rudal darat-ke-udara. Tuduhan-tuduhan tersebut sempat memicu kontroversi di dalam negeri karena minimnya bukti yang dipublikasikan ke publik.
Insiden ini terjadi di tengah situasi politik Kolombia yang tegang, dengan ancaman kekerasan terhadap pejabat publik yang masih sering terjadi. Pada Juni 2025, senator sekaligus bakal calon presiden Miguel Uribe Turbay tewas ditembak saat kampanye. Meski tidak terkait langsung dengan klaim Petro, peristiwa itu mencerminkan besarnya risiko keamanan menjelang siklus pemilu 2026.
Aparat keamanan Kolombia sebelumnya juga pernah menggagalkan dugaan rencana pembunuhan terhadap Petro. Dalam sebuah operasi pada 2025 di wilayah Valle del Cauca, pasukan keamanan menewaskan seorang tersangka yang diduga terlibat dalam rencana tersebut. Operasi itu menyasar anggota jaringan Gulf Clan dan berujung pada penyitaan senjata serta amunisi.
Dugaan rencana pembunuhan ini juga muncul tak lama setelah Petro bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pertemuan hampir dua jam di Gedung Putih pekan lalu. Kedua pemimpin menyebut pertemuan itu berlangsung hangat, berbeda jauh dari ketegangan sebelumnya ketika Trump menuduh Petro membiarkan perdagangan kokain ke AS dan bahkan sempat mengancam aksi militer terhadap Kolombia.
Usai pertemuan tersebut, Trump mencoba meredam pernyataan lamanya. "Dia dan saya sebenarnya tidak terlalu bersahabat sebelumnya, tapi saya tidak tersinggung karena saya belum pernah bertemu dengannya. Saya sama sekali tidak mengenalnya," kata Trump.
"Kami mengadakan pertemuan yang sangat baik," tambah Trump dalam sebuah acara di Ruang Oval. "Saya pikir dia luar biasa."
Petro kemudian menggelar konferensi pers terpisah dan mengatakan kedua pemimpin meninggalkan pertemuan itu "dengan pandangan yang positif dan optimistis". Ia menegaskan pembicaraan mereka didasari nilai-nilai bersama.
"Yang menyatukan kami adalah kebebasan dan dari situlah pertemuan itu dimulai," ujar Petro.
(luc/luc)