Economic Outlook 2026

Bos Jababeka Ungkap Tantangan Utama Pengembangan Kawasan Industri

Elga Nurmutia, CNBC Indonesia
Selasa, 10/02/2026 16:20 WIB
Foto: Direktur Utama PT Jababeka Tbk, Setyono Djuandi Darmono saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama PT Jababeka Tbk, Setyono Djuandi Darmono mengungkapkan kepastian hukum dan lonjakan harga tanah menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh kawasan industri. Padahal agar bisa berkembang, kawasan industri harus mampu menyediakan pelayanan yang membuat investor merasa aman, terutama dari sisi kepastian hukum.

"Kendalanya adalah kepastian hukum, keamanan, dan infrastruktur. Di balik itu, harga tanah di Cikarang, Karawang, Bekasi, dalam tempo 30 tahun meningkat 1.000 kali lipat," kata Setyono dalam CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Kenaikan harga tanah secara fantastis terjadi terutama di daerah Jawa Barat. Selain itu, biaya tenaga kerja juga menjadi sorotan bagi investor, karena sudah naik 60 kali lipat dalam 37 tahun terakhir.


"Jadi tidak mungkin lagi mengandalkan labor cost yang murah atau padat karya," ujarnya.

Untuk itu, Jababeka mengambil strategi membangun kawasan industri di Kendal, Jawa Tengah. Setyono mengatakan kawasan Kendal memiliki infrastruktur yang mendukung karena tersambung dengan berbagai fasilitas, mulai dari Jalan Tol hingga Pelabuhan Tanjung Emas.

"Tetapi tanah harganya juga sudah meningkat. 10 tahun di Kendal harga tanahnya juga sudah meningkat, mungkin sudah 30 kali lipat. Kedua, skilled workers. Tanah kerja terhampir juga sulit memperolehnya. UMR-nya naik, sudah itu juga skill-nya tidak selalu siap pakai. Jadi berarti membuat kawasan industri itu sebenarnya tidak mudah," ungkapnya.

Selain dua kendala tersebut, dia mengharapkan insentif untuk membangun infrastruktur yang memadai bagi kawasan industri. Pasalnya status kawasan industri dan ekonomi khusus tidak cukup menarik investor datang, tetapi harus didukung infrastruktur.

"Di samping itu kawasan industri ini adalah pencipta lapangan kerja yang paling cepat dan juga memberikan pendidikan dalam knowledge, skill, dan karakter sebagai industrialis. Jadi kalau pertumbuhan ekonomi kita ini mau di atas 8% per tahun,kawasan industri inilah sebenarnya jawabannya," ujar Setyono.


(rah/rah)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Tanah & Tenaga Kerja Mahal Bikin Investor Pikir-pikir Masuk RI