Internasional

Investasi Perak Salip Emas, Warga Berburu Besar-besaran

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Jumat, 06/02/2026 10:00 WIB
Foto: perak (Ist)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gejolak harga emas dan perak global dalam dua pekan terakhir memicu lonjakan minat investasi di pasar logam mulia Pakistan. Para pedagang perhiasan di Lahore, Islamabad, hingga Karachi melaporkan adanya pergeseran tren besar-besaran di mana masyarakat kini mulai beralih memburu perak sebagai aset investasi alternatif di tengah melambungnya harga emas.

Waqas Siddiqi, seorang pemilik toko perhiasan di Lahore, mengungkapkan bahwa fluktuasi harga yang liar telah membuat tokonya dibanjiri pertanyaan dari pelanggan. Meskipun bisnis utamanya adalah perhiasan, ia mencatat bahwa fungsi logam mulia sebagai alat investasi kini jauh lebih dominan dibandingkan untuk fungsi estetika.


"Kami pada dasarnya bergerak di bisnis perhiasan, yang memang sedang menurun, karena orang-orang menggunakan logam mulia untuk investasi. Jadi, ketika reli harga dimulai, beberapa pelanggan datang ke toko kami menunjukkan minat untuk membeli batang perak atau menjual emas," kata Siddiqi kepada Al Jazeera, Jumat (6/2/2026).

Senada dengan hal tersebut, Omer Ehsan, pemilik bisnis perhiasan keluarga di Lahore, mengonfirmasi bahwa minat terhadap perak meningkat jauh lebih pesat dibandingkan emas. Namun, ia memperingatkan para investor untuk tidak terjebak dalam euforia pasar yang sangat volatil.

"Pelanggan saya menelepon untuk menanyakan apakah mereka harus berinvestasi dan bergabung dalam reli harga tersebut, tetapi saya menyarankan mereka untuk berhati-hati," tutur Ehsan.

Ketidakpastian harga di pasar domestik Pakistan sangat dipengaruhi oleh sentimen global, terutama kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Harga emas per 10 gram di Pakistan sempat melonjak lebih dari 20.000 rupee menjadi 440.000 rupee, sementara perak mencapai 7.800 rupee per 10 gram.

Hanif Chand, mantan Wakil Presiden asosiasi perhiasan di Karachi, menjelaskan bahwa kekhawatiran akan serangan AS terhadap Iran menjadi motor utama kepanikan pasar. Menurutnya, harga logam mulia sangat bergantung pada pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh Presiden AS, Donald Trump.

"Begitu muncul kabar bahwa Trump akan mengambil lebih banyak waktu untuk membuat keputusannya, pasar sedikit tenang. Namun, harga bisa kembali meroket jika situasi di kawasan Timur Tengah kembali memanas," ungkap Chand.

Di sisi lain, analis investasi independen Ali Aftab Saeed menyoroti faktor China yang mulai mengurangi kepemilikan surat utang AS dan beralih ke emas. Ia memprediksi bahwa fluktuasi kecil yang terjadi saat ini hanyalah bagian dari koreksi pasar sebelum reli berikutnya dimulai.

"Fluktuasi kecil yang Anda lihat disebabkan oleh pasar yang memperbaiki arahnya, di mana investor berhenti membeli setelah komoditas mencapai harga tertentu, dan kemudian harga terkoreksi sendiri sebelum putaran berikutnya dimulai," jelas Saeed

Mengenai prospek ke depan, Saeed menambahkan bahwa pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping pada April mendatang akan menjadi penentu arah harga komoditas ini. Ia menekankan bahwa perilaku Trump yang sulit ditebak menjadi risiko utama bagi para investor.

"Dan harga di masa depan serta volatilitasnya, atau ketiadaannya, bergantung pada pertemuan mendatang antara Presiden AS Donald Trump dan mitranya dari China, Xi Jinping. Hal itu akan menetapkan arah tindakan masa depan untuk harga logam-logam ini," tambah Saeed.

Sementara itu, Ehsan menutup dengan menekankan bahwa pasar saat ini bergerak murni berdasarkan sentimen politik AS yang tidak menentu.

"Pasar naik atau turun semata-mata karena perilaku dan keputusannya (Trump). Suatu pagi, dia bisa berjanji untuk tidak menyerang Iran, dan sore harinya, dia akan meluncurkan rudal. Semua ini membuat pasar tidak dapat diprediksi," pungkas Ehsan.

Pergeseran Budaya?

Mahalnya harga emas telah mengubah pola konsumsi masyarakat Pakistan. Razzak Ahmed, pemilik toko perhiasan di Islamabad, mencatat bahwa perak kini menjadi pilihan utama bagi investor ritel atau pembeli kecil yang memiliki modal terbatas namun menginginkan imbal hasil yang signifikan.

"Di tingkat individu, pembeli kecil lebih tertarik membeli barang-barang dalam bentuk perak, baik itu batang perak atau perhiasan perak, karena mereka memiliki cukup modal untuk setidaknya membeli sesuatu, dan keuntungan darinya signifikan seiring kenaikan harga," kata Razzak Ahmed.

Fenomena ini juga menandai berakhirnya era koleksi emas keluarga untuk mahar pernikahan. Hanif Chand mencatat bahwa keluarga-keluarga di Pakistan kini lebih memilih perhiasan buatan (imitasi) berkualitas tinggi dan mengalihkan dana mereka ke batang perak untuk investasi.

"Orang-orang sekarang lebih suka menginvestasikan uang mereka dalam batang perak jika mereka tidak memiliki cukup modal. Namun, bahkan jika mereka punya modal, masa-masa berinvestasi dalam set perhiasan emas yang diwariskan dalam keluarga dipastikan mulai memudar sekarang," jelas Hanif Chand.


(tps/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Perang Saudara Menggila, Ratusan Orang Tewas Dalam 2 Hari