BKPM Ungkap Banyak Negara yang Mau Bangun Pembangkit Nuklir di RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Investasi atau Badan Kordinator Penanaman Modal (BKPM) mencatat bahwa cukup banyak negara yang tertarik menanamkan investasinya di sektor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia.
Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis BKPM, Heldy Satrya Putera menyampaikan, bahwa sejatinya Indonesia sangat terbuka untuk bisa membangun Pembangkit Nuklir.
"Terkait investasinya sudah cukup banyak yang ingin bangun PLTN di Indonesia, kita ingin tentukan yang paling tepat, lokasi yang paling tepat, agar lebih menarik," kata Heldy dalam Energy Outlook 2026 CNBC Indonesia, Kamis (5/2/2026).
Untuk mendukung itu, BPKM sekarang sedang melakukan penyederhanaan simplifikasi aturan. Hal ini supaya pengembangan Pembangkit Nuklir di Indonesia bisa lebih menarik dibandingkan negara-negara lainnya.
"Mudah-mudahan bisa lebih advance dari negara lain, sudah ada jangka waktunya, tapi masih ada yang belum, sehingga dibuat sistem, kalau sudah lebih dari waktunya akan otomatis diterbitkan, untuk tarik investor, selain sumber daya dan advantage yang kita lakukan," ungkapnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi mengatakan tidak hanya dari Rusia, sejumlah perusahaan yang berasal dari Amerika dan Kanada juga menunjukkan minat.
"Kemarin aja Amerika juga datang. Kanada juga datang. Ramai," kata Eniya ditemui di Gedung Kementerian ESDM, dikutip Kamis (8/1/2026).
Adapun, dari sisi lokasi, Eniya menyebutkan terdapat dua wilayah yang sudah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), dengan data paling banyak berada di wilayah Bangka Belitung. Kalimantan juga disebut telah memiliki kajian awal atau pra-studi kelayakan (pre-feasibility study).
"Terus datanya seperti apa saya belum tahu tuh. Nah nanti kalau tempat-tempat lain juga memungkinkan ya why not," kata Eniya.
Menurut dia, sebelumnya Batan telah mengkaji sekitar 28 lokasi potensial untuk pembangunan PLTN. Namun, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah offtaker atau pihak penyerap listrik dari PLTN tersebut.
"Ada list 28 kan yang dulu pernah ditelaah oleh BATAN. Nah kita tinggal, dari list itu kan harus ada offtaker. Ini problem utama offtaker. Mau duluan Kalbar atau duluan Bangka atau duluan tempat lain, offtakernya ini," katanya.
Sebagaimana diketahui, Indonesia berencana membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berkapasitas hingga 500 Mega Watt (MW). Hal tersebut tertuang di dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) untuk periode 2025-2034.
Menurut Eniya proyek PLTN di dalam RUPTL nantinya akan dibangun di dua lokasi, yakni Sumatera dan Kalimantan, masing-masing dengan kapasitas 250 megawatt (MW).
(pgr/pgr)