MARKET DATA

Produksi Batu Bara RI Dipangkas Harga Justru Turun, Ini Kata Pengusaha

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
04 February 2026 13:50
Aktivitas pertambangan batubara milik Bayan Resources di Tabang/Pakar, Kalimantan, Jumat (17/11/2023). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki).
Foto: Aktivitas pertambangan batubara milik Bayan Resources di Tabang/Pakar, Kalimantan, Jumat (17/11/2023). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki).

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) merespon penurunan harga batu bara dunia. Padahal, pada tahun 2026 ini, Indonesia yang merupakan salah satu penyumbang produksi batu bara terbesar, mulai mengurangi target produksi batu bara.

Memang, salah satu tujuan dari kebijakan pemangkasan produksi batu bara jadi di level sekitar 600 juta ton tahun ini adalah upaya untuk mengerek harga batu bara dunia.

Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani mengatakan pergerakan harga batu bara dunia saat ini masih sangat bergantung pada pasokan dan permintaan di pasar global.

Dia menilai, tren pelemahan harga yang terjadi belakangan ini dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor eksternal. Beberapa diantaranya seperti kondisi inventori di negara-negara tujuan ekspor yang masih cukup melimpah serta adanya peningkatan kemandirian energi di negara importir.

"Pelemahan harga batu bara saat ini sangat dipengaruhi oleh sejumlah hal misalnya stok tinggi di negara konsumen, produksi domestik yang meningkat di beberapa negara importir utama, serta faktor musiman dan sentimen pasar," ujar Gita kepada CNBC Indonesia, Rabu (4/2/2026).

Meskipun ada kebijakan pengurangan produksi di dalam negeri, distribusi batu bara ke pasar regional dinilai masih relatif lancar. Hingga saat ini, permintaan dari negara-negara Asia masih dapat dipenuhi oleh para pelaku usaha pertambangan nasional.

"Sejauh ini pasokan ke Asia saat ini masih berjalan. Tapi ke depan dengan penyesuaian produksi, dapat berpotensi berkurang," tambahnya.

Merujuk Refintiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 115,1 per ton atau turun 0,71% pada perdagangan Selasa (3/2/2026).

Harga batu bara sudah ambruk 2,04% dalam dua hari beruntun.

Harga thermal coal (batu bara termal) di China bergerak terbatas menjelang periode liburan dalam negeri, meskipun ada sedikit penguatan di beberapa titik tambang.

Faktor utama yang mempengaruhi pasar saat ini adalah kombinasi permintaan konsumen yang moderat dan perubahan aktivitas produksi di tambang.

Beberapa produsen menaikkan penawaran harga, sementara banyak yang mempertahankan level harga sebelumnya, sehingga secara keseluruhan harga tetap pada kisaran yang sempit.

Kondisi ini menunjukkan bahwa, meskipun ada pembelian kembali (pre-holiday restocking) di beberapa wilayah dan penurunan stok, permintaan akhir masih belum cukup kuat untuk mendorong tren kenaikan harga yang berkelanjutan.

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Produksi Batu Bara PTBA Melejit 9% di Kuartal III-2025


Most Popular
Features