Bos Keramik Ungkap Pabrik Keramik di Jatim Sempat Setop Produksi, PHK?
Jakarta, CNBC Indonesia - Kalangan pengusaha mengungkap tekanan biaya energi dan gangguan distribusi gas mulai memengaruhi operasional industri keramik nasional. Meski demikian, pelaku usaha mengklaim masih berupaya menjaga stabilitas tenaga kerja di tengah kondisi produksi yang tidak optimal.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto mengatakan tren harga gas domestik justru bergerak naik meski Indonesia berstatus sebagai negara produsen. Kondisi ini dinilai berbanding terbalik dengan negara tetangga yang mengalami penurunan harga secara bertahap.
"Dengan alokasi gas industri tertentu sekitar 60 sampai 65 persen di Jawa Barat, average cost gas kami sudah berkisar US$9,5 sampai US$10. Malaysia hari ini 9,6 dolar, Thailand 9,9 dolar. Namun tren mereka menurun setiap tahun, sementara kita malah naik. Ini yang kami harapkan pemerintah menjadikan gas industri sebagai prioritas utama," ujarnya di Kemenperin, Selasa (3/2/2026).
Gangguan pasokan juga disebut sempat menyebabkan penghentian produksi di sejumlah pabrik di Jawa Timur (Jatim). Meski demikian, pengusaha memilih menahan langkah pengurangan tenaga kerja (PHK) maupun merumahkan pekerja.
"Ini terjadi sejak pertengahan Januari dan hampir dua minggu industri keramik di Jawa Timur setop produksi. Namun kami tetap tidak melakukan perumahan karyawan. Kami punya komitmen menjaga tenaga kerja karena sebentar lagi Lebaran. Pabrik boleh berhenti sementara, tapi karyawan tetap kami pertahankan," kata Edy.
Selain energi, ketersediaan bahan baku tanah liat juga menjadi perhatian serius. Edy menyebut sebagian pelaku usaha terpaksa mencari pasokan hingga luar pulau untuk menjaga operasional tetap berjalan.
"Kami khawatir jangan sampai pasar kita ada, material kita ada, namun suatu hari kita terpaksa mengimpor bahan baku dari negara tetangga. Itu tentu akan mengurangi daya saing kita, padahal kita sendiri sesungguhnya memiliki," ujarnya.
[Gambas:Video CNBC]