Bencana Hidrometeorologi di RI Bukan Anomali, Ini Warning Menteri LH
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi kejadian bencana di berbagai wilayah Indonesia bukan suatu anomali. Ini merupakan tanda bahwa perubahan iklim sudah terjadi.
"Yakinlah bahwa kejadian bencana hidrometeorologi yang hari ini menempa hampir di seluruh titik-titik tanah air bukan suatu anomali. Ini sudah menjadi suatu sistem yang akan terus menjadi pola," kata Hanif di ESG Sustainability Forum 2026 dengan tema Akselerasi Agenda Hijau: Menjembatani Kepentingan Bisnis dan Keberlanjutan yang digelar di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Hanif pun meminta masyarakat Indonesia harus memahami fenomena ini. Perubahan atau krisis iklim dunia sudah benar-benar terjadi.
"Tentu ini harus kita cermati secara bijaksana kita tidak bisa berandai2 bahwa kondisi ini hanya suatu kejadian yang tidak akan terulang lagi tapi perubahan iklim dan bahkan krisis iklim sudah benar-benar hadir bersama kita hari ini," bebernya.
Dia menyebut bencana hidrometeorologi di Indonesia diperparah dengan praktik-praktik yang merusak lingkungan. Contoh kejadian di Cisarua, Bogor. Oleh karena itu harus ada perubahan perilaku manusia agar bersahabat dengan alam.
"Baru saja kemarin beberapa hari lalu terjadi longsoran yang cukup dramatis, yg membuat warga negara kita kehilangan nyawa. Dari longsor di Cisarua ini bukan masalah kondisi alam biasa tentu ada antroponik atau campur tangan manusia di sini yg memperparah kondisi ini," tuturnya.
"Kita sama-sama persis, maka tahun 2000-an pola makan kita berubah drastis, dengan semakin kuatnya urbanisasi yang terjadi di hampir seluruh kota besar membawa pola makan yang cukup berubah dan berbeda," ujarnya.
(wur/wur)