Kiamat Energi Hantui Eropa, Stok Gas Jeblok ke Level Terendah
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Cadangan gas Uni Eropa dilaporkan telah merosot ke level terendah untuk periode musim ini sejak krisis energi hebat tahun 2022 silam. Cuaca dingin yang ekstrem serta pemangkasan pasokan gas dari Rusia telah memaksa penarikan cadangan gas secara besar-besaran hingga kapasitas penyimpanan di seluruh blok tersebut kini hanya tersisa 43%.
Berdasarkan laporan Financial Times, Uni Eropa mengalami lonjakan harga energi yang tajam sejak memutuskan untuk membatasi impor minyak dan gas dari Rusia menyusul eskalasi konflik Ukraina empat tahun lalu. Langkah menjauh dari gas pipa Rusia yang relatif murah telah memaksa blok tersebut sangat bergantung pada pasokan energi dari Amerika Serikat (AS).
Situasi ini diperparah dengan undang-undang baru yang disahkan minggu lalu, di mana negara anggota Uni Eropa wajib menghentikan seluruh pengiriman energi Rusia pada akhir 2027, yang meningkatkan eksposur kawasan terhadap risiko pasokan.
Harga gas Eropa mencatatkan kenaikan bulanan terbesar dalam lebih dari dua tahun terakhir seiring meningkatnya kekhawatiran pasokan. Indeks harga gas utama Eropa, Dutch TTF, melonjak ke angka 42,60 euro atau sekitar US$ 46 (Rp 772.800) per megawatt-jam pada minggu lalu, yang merupakan level tertinggi dalam sepuluh bulan terakhir.
Badai musim dingin yang parah di AS juga mengganggu pasar gas domestik mereka, yang pada gilirannya mengerek harga di Eropa karena kawasan tersebut semakin bergantung pada pengiriman LNG Amerika.
Menurut data Gas Infrastructure Europe (GIE), Uni Eropa saat ini kekurangan sekitar 130 kargo ukuran penuh dibandingkan tahun lalu, dengan total penyimpanan berada di angka 490 terawatt-jam per 29 Januari. Raksasa energi Rusia, Gazprom, menyatakan kondisi ini sangat mengkhawatirkan bagi ketahanan energi Eropa.
"Eropa telah menarik lebih dari 81% gas yang disimpan di fasilitas bawah tanah dalam persiapan untuk musim pemanasan saat ini," ungkap pihak Gazprom merujuk pada data GIE dikutip Russia Today, (3/2/2026)
Gazprom juga menyoroti bahwa tingkat penyimpanan di Belanda telah anjlok ke angka 27,8%, yang merupakan rekor terendah untuk tanggal tersebut. Kondisi serupa terjadi di negara-negara ekonomi besar Eropa lainnya.
"Cadangan gas di Prancis dan Jerman juga berada pada level terendah untuk periode 28 Januari," tambah pihak Gazprom dalam pernyataannya.
Sebelum konflik Ukraina pecah, Uni Eropa mengimpor 45% kebutuhan gasnya dari Rusia, menjadikannya pemasok luar negeri terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin. Namun, sanksi Barat dan sabotase infrastruktur utama telah memangkas pengiriman gas pipa Rusia, meskipun pembelian LNG Rusia oleh negara-negara Uni Eropa tetap signifikan.
Untuk menutupi celah kebutuhan energi tersebut, Uni Eropa terpaksa beralih ke LNG Amerika yang jauh lebih mahal. Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah menggunakan isu energi sebagai daya tawar dalam negosiasi perdagangan.
Hasilnya, Uni Eropa sepakat pada Juli lalu untuk membeli energi AS senilai US$ 750 miliar (Rp 12.600 triliun) hingga tahun 2028 demi menghindari tarif perdagangan yang lebih tinggi, sebuah langkah yang oleh para kritikus disebut sebagai tindakan koersif atau pemaksaan.
[Gambas:Video CNBC]