Internasional

Raksasa Arab 'Turun Gunung' di Perang Saudara Sudan, Terjunkan Drone

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Selasa, 03/02/2026 07:40 WIB
Foto: Kendaraan yang hancur digambarkan di luar markas Biro Pusat Statistik Sudan yang terbakar, di jalan al-Sittin (enam puluh) di selatan Khartoum pada 29 Mei 2023. (AFP via Getty Images/-)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mesir dilaporkan mengerahkan model drone tempur canggih buatan Turki ke pangkalan udara terpencil di perbatasan barat daya dekat perbatasan Sudan. Hal ini terjadi saat Kairo selama ini menjadi penyokong politik utama bagi militer Sudan dalam menghadapi kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).

Pengerahan ini terungkap melalui keterangan lebih dari selusin pejabat dan pakar regional. Meski sebelumnya pejabat keamanan Mesir secara tertutup mengakui telah mengirimkan dukungan logistik dan teknis kepada Angkatan Bersenjata Sudan, Kairo sebagian besar menahan diri dari intervensi militer langsung.

Namun, sikap itu berubah setelah RSF mencatat serangkaian kemajuan pesat di wilayah Darfur, termasuk jatuhnya kota strategis Al Fashir pada Oktober lalu.


Mesir sendiri telah memperingatkan pada Desember bahwa keamanan nasional negara itu terkait langsung dengan Sudan. Kairo menegaskan tidak akan membiarkan "garis merah" mereka dilanggar, termasuk menjaga integritas teritorial Sudan dan menolak adanya "entitas paralel" yang mengancam persatuan negara tersebut.

Dua pejabat keamanan Mesir mengungkapkan kepada Reuters bahwa dua bandara di selatan telah disuplai dengan peralatan militer selama delapan bulan terakhir untuk mengamankan perbatasan dan melakukan serangan militer guna melindungi "keamanan nasional."

Bukti satelit dari perusahaan teknologi ruang angkasa AS, Vantor, memperlihatkan drone besar di apron bandara East Oweinat pada September, Desember, dan Januari. Dua pakar militer yang meninjau gambar tersebut mengidentifikasi pesawat itu sebagai Bayraktar Akinci, drone tempur paling canggih milik perusahaan Turki, Baykar, yang mampu terbang selama 24 jam dan membawa berbagai jenis amunisi.

Samir Farag, pensiunan perwira militer Mesir, menyatakan bahwa East Oweinat adalah salah satu pangkalan utama bagi Mesir untuk mengamankan perbatasan selatannya.

"Mesir tidak mengizinkan siapa pun hadir di perbatasannya dan mengancam keamanan nasionalnya. Mesir akan melakukan intervensi langsung dan mengelola situasi tersebut. Ini adalah hak setiap negara di dunia," tuturnya kepada Reuters, Selasa (3/2/2026).

Keterlibatan drone Akinci ini juga diperkuat oleh data pelacakan penerbangan FlightRadar24, di mana lima dari enam penerbangan ke East Oweinat sejak September berasal dari Turki, termasuk pesawat kargo Angkatan Udara Turki dari Tekirdag, lokasi pengujian Akinci.

Seorang diplomat Barat mengungkapkan bahwa pejabat Turki secara pribadi membela serangan udara Mesir terhadap RSF sebagai langkah yang sah dan mengonfirmasi bahwa drone telah dikirim baru-baru ini untuk membantu upaya perang tersebut.

Di sisi lain, pemimpin RSF Mohamed Hamdan Dagalo secara terbuka menuduh Mesir terlibat dalam serangan udara terhadap kelompoknya sejak Oktober 2024. Sesaat sebelum jatuhnya Al Fashir, Dagalo memperingatkan bahwa pasukannya diserang oleh pesawat yang lepas landas dari "bandara di negara-negara tetangga" dan menyatakan bandara tersebut sebagai "target sah" bagi pejuangnya.

Perubahan sikap Mesir ini juga disebut-sebut dipicu oleh jatuhnya Al Fashir yang menjadi titik balik. Kairo diprediksi tengah menyusun kekuatan besar dalam melawan RSF.

"Militer Mesir sama sekali tidak memiliki kedekatan dengan Rapid Support Forces. Namun Mesir bergantung pada Uni Emirat Arab, pendukung utama RSF, untuk bantuan keuangan," kata Jalel Harchaoui, pakar dari Royal United Services Institute.

"Ketika Al Fashir akhirnya jatuh, keseimbangan Kairo bergeser untuk mengambil tindakan yang lebih tegas terhadap RSF."


(tps/tps)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rafah Kembali Dibuka, Ratusan Warga Gaza Dievakuasi ke Mesir