MARKET DATA
Internasional

Trump Tekan Habis Sekutu Rusia Ini, Sebut Bakal Takluk Oleh AS

Thea Fathanah Arbar,  CNBC Indonesia
03 February 2026 05:30
Presiden AS Donald Trump mengambil bagian dalam pengumuman piagam untuk inisiatif Dewan Perdamaiannya yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik global, bersamaan dengan Forum Ekonomi Dunia (WEF) ke-56, di Davos, Swiss, 22 Januari 2026. (REUTERS/Denis Balibouse)
Foto: Presiden AS Donald Trump mengambil bagian dalam pengumuman piagam untuk inisiatif Dewan Perdamaiannya yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik global, bersamaan dengan Forum Ekonomi Dunia (WEF) ke-56, di Davos, Swiss, 22 Januari 2026. (REUTERS/Denis Balibouse)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Kuba mulai membuka jalur negosiasi menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump untuk memblokade pasokan minyak ke negara kepulauan tersebut. Langkah ini muncul di tengah tekanan ekonomi berat yang dialami Kuba akibat krisis energi dan keuangan.

Trump mengungkapkan bahwa Washington kini tengah berkomunikasi langsung dengan jajaran tertinggi kepemimpinan di Havana untuk membahas kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan sekutu Rusia di Benua Amerika itu.

"Kuba adalah negara yang gagal. Sudah lama seperti itu, tetapi sekarang tidak ada Venezuela yang menopangnya. Jadi kami sedang berbicara dengan orang-orang dari Kuba, orang-orang tertinggi di Kuba, untuk melihat apa yang terjadi," kata Trump kepada wartawan di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, Minggu (1/2/2026) waktu setempat, seperti dikutip Guardian.

Ia menambahkan, "Saya pikir kita akan membuat kesepakatan dengan Kuba," meski tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai bentuk kesepakatan yang dimaksud.

Ancaman blokade minyak sebelumnya disampaikan Trump pada Sabtu. Ia menilai tekanan ekonomi yang dilakukan AS tidak harus berujung pada krisis kemanusiaan, namun menegaskan kondisi Kuba saat ini berada dalam situasi yang sangat sulit.

"Ini tidak harus menjadi krisis kemanusiaan. Saya pikir mereka mungkin akan datang kepada kita dan ingin membuat kesepakatan. Mereka memiliki situasi yang sangat buruk bagi Kuba. Mereka tidak punya uang. Mereka tidak punya minyak," ujar Trump.

"Mereka hidup dari uang dan minyak Venezuela, dan sekarang tidak ada lagi yang datang," imbuhnya.

Dalam pemerintahan keduanya, Trump meningkatkan tekanan terhadap Kuba, terutama setelah tumbangnya Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Venezuela selama ini dikenal sebagai sekutu utama Havana sekaligus pemasok minyak vital bagi Kuba.

Pada Kamis lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengancam akan mengenakan tarif tambahan terhadap negara-negara yang masih menjual minyak ke Kuba. Tak lama setelah pengumuman tersebut, warga Kuba terlihat mengantri panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di Havana pada Jumat, mencerminkan kekhawatiran atas pasokan energi.

Trump bersama Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang merupakan putra pengungsi Kuba, juga secara terbuka menyuarakan keinginan mendorong perubahan politik di Havana. Setelah kejatuhan Maduro, Trump bahkan memperingatkan Kuba untuk "segera mencapai kesepakatan" dengan AS atau menghadapi konsekuensi yang tidak dirinci.

"SAYA TEGASKAN, TIDAK ADA LAGI MINYAK ATAU UANG UNTUK KUBA: NOL!" tulis Trump dalam pernyataan sebelumnya, sembari menyebut Kuba "siap untuk jatuh".

Sementara itu, pemerintah Kuba menuding Washington berupaya mencekik perekonomian nasional. Saat ini, negara tersebut menghadapi pemadaman listrik harian yang semakin parah serta kelangkaan bahan bakar yang memicu antrean panjang di SPBU.

(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Beri Pesan ke Hamas, Sebut Perdamaian Gaza Sudah Dekat


Most Popular
Features