Kesepakatan Dagang RI-AS Mundur Akibat Peluncuran Board of Peace
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat masih mencari waktu masing-masing kepala negara untuk menandatangani secara resmi dokumen kesepakatan tarif dagang.
Mulanya, penandatanganan kesepakatan tarif dagang antara Presiden AS Donald Trump dengan Presiden RI Prabowo Subianto ditargetkan berlangsung pada akhir Januari 2026. Namun, hingga kini agenda penandatangan masih belum jelas.
"Tinggal menunggu jadwal yang akan ditentukan. Jadwal bersama antara Bapak Presiden dan Presiden Trump," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di kawasan Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026).
Airlangga memastikan, tak ada kendala negosiasi yang menyebabkan rencana penandatanganan kesepakatan ini mundur. Ia menekankan, alasan jadwal yang mundur semata karena pada akhir bulan lalu Presiden Trump, Prabowo, dan kepala negara lain menandatangani kesepakatan pembentukan Board of Peace alias Dewan Perdamaian untuk Gaza, Palestina.
"Karena ini kan kemarin dinamika, kemarin ada penandatangan Board of Peace dan sebagainya, ini kan menggeser ke berbagai kegiatan. Tetapi kan kita lihat saja Board of Peace Pak Presiden juga ditandatangani," ungkap Airlangga.
Airlangga pun belum mau mengungkapkan persentase tarif dagang resiprokal yang disepakati kedua negara. Mulanya, tarif resiprokal yang dikenakan AS ke Indonesia senilai 32%, lalu turun menjadi 19% setelah serangkaian negosiasi.
"Karena kita masih ada non-disclosure agreement. Baru di-disclose sesudah ditandatangani," papar Airlangga.
(arj/haa)