Proyek Baterai EV Raksasa di Karawang Ditargetkan Beroperasi Q3 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Proyek pabrik sel baterai kendaraan listrik berkapasitas 6,9 Giga Watt hour (GWh) per tahun yang dikembangkan oleh PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III-2026.
Director of Corporate Public Affair CATIB Bayu Hermawan menjelaskan, PT CATIB resmi dibentuk pada Oktober 2024 dengan fokus pengembangan pabrik baterai kendaraan listrik di Karawang. Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai sekitar Rp 7 triliun.
Dari sisi kepemilikan, PT CATIB merupakan perusahaan yang dimiliki PT CBL Internasional Indonesia sebesar 70%, serta PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) sebesar 30%.
"Kami dibentuk pada tahun 2024 bulan Oktober dengan rencana pengembangan pabrik baterai dengan kapasitas mencapai 6,9 Giga Watt-hour yang mana lokasinya berada di Kabupaten Karawang Jawa Barat dengan nilai investasi kurang lebih mencapai Rp 7 triliun. Insya Allah kami itu ditargetkan untuk dapat beroperasi di Q3 2026," kata dia dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Senin (2/2/2026).
Lebih lanjut, Bayu membeberkan bahwa produk yang dihasilkan oleh PT CATIB nantinya berupa baterai kendaraan listrik dan baterai untuk energy storage system. Kedua produk ini diharapkan dapat mendukung pengembangan energi hijau di Indonesia maupun pasar global.
"Dapat kami sampaikan bahwa PT CATIB diestimasikan nantinya akan mampu menyerap kurang lebih hingga 3.000 pekerja," katanya.
Selain menghasilkan produk untuk mendukung penggunaan energi hijau, dalam implementasinya PT CATIB juga berkomitmen untuk berkontribusi pada industri bersih. Salah satunya dengan mengimplementasikan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk operasionalnya dengan kapasitas kurang lebih 18 Mega Watt hour (MWh).
"PT CATIB telah dilakukan groundbreaking pada tanggal 29 Juni 2025 yang alhamdulillah turut dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto yang juga turut didampingi oleh Komisi 12 DPR RI saat itu. Dapat kami sampaikan bahwa proyek PT CATIB ini juga telah masuk ke dalam proyek strategis nasional kemudian juga telah mendapatkan fasilitas tax holiday dari pihak Kementerian Keuangan," kata dia.
Sebagaimana diketahui, Indonesia saat ini tengah membangun ekosistem pabrik baterai kendaraan listrik (electric vehicle/ EV) terintegrasi yang diklaim terbesar di Asia. Hal itu didukung dengan besarnya cadangan bahan baku utama komponen baterai, yakni nikel.
Proyek ekosistem baterai terintegrasi hulu-hilir tersebut dioperasikan oleh PT Aneka Tambang (Antam), PT Indonesia Battery Corporation (IBC), dan perusahaan asal China yakni Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) yang merupakan perusahaan patungan dari CATL, Brunp dan Lygend.
Adapun, total investasi keseluruhan proyek baterai terintegrasi hulu-hilir tersebut mencapai US$ 5,9 miliar atau setara Rp 96,04 triliun (asumsi kurs Rp 16.278 per US$).
Proyek tersebut terdiri dari total enam usaha patungan (Joint Venture/JV) mulai dari proyek hulu hingga hilir. Detailnya, JV satu hingga tiga merupakan ekosistem baterai di sisi hulu. Sedangkan, JV empat hingga enam merupakan ekosistem baterai di sisi hilir.
Hulu:
JV 1: Proyek pertambangan nikel PT Sumberdaya Arindo (SDA) kapasitas produksi nikel saprolite 7,8 juta wet metric ton (wmt) dan limonite 6 juta wmt, total 13,8 juta wmt dengan porsi kepemilikan saham PT Antam sebesar 51% dan CBL sebesar 49%. Proyek ini sudah mulai berproduksi sejak tahun 2023 lalu.
JV 2: Proyek fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter nikel) jenis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) PT Feni Haltim (FHT) kapasitas 88 ribu ton refined nickel alloy per tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 60% dan PT Antam sebesar 40%. Proyek ini ditargetkan berproduksi pada tahun 2027 mendatang.
JV 3: Proyek fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter nikel) jenis High Pressure Acid Leaching (HPAL) PT Nickel Cobalt Halmahera (HPAL JVCO) kapasitas 55 ribu ton MHP per tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT Antam sebesar 30%. Proyek ini ditargetkan berproduksi pada tahun 2028 mendatang.
Hilir:
JV 4: Proyek material baterai yang akan memproduksi bahan katoda, kobalt sulfat, dan prekursor terner kapasitas 30 ribu ton Li-hydroxide berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara dengan porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT IBC sebesar 30%. Proyek ini ditargetkan berproduksi pada tahun 2028 mendatang.
JV 5: Proyek sel baterai PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) berlokasi di Artha Industrial Hill (AIH) & Karawang New Industry City (KNIC). Proyek ini terbagi menjadi fase 1 dengan kapasitas 6,9 GWh/tahun dan fase 2 kapasitas 8,1 GWh/tahun, total kapasitas 15 GWh/tahun. Adapun, porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT IBC sebesar 30%. Proyek ini ditargetkan mulai berproduksi pada tahun 2026 mendatang untuk fase 1, dan pada tahun 2028 mendatang untuk fase 2.
JV 6: Proyek daur ulang baterai berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara kapasitas 20 ribu ton logam/tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 60% dan PT IBC sebesar 40%. Proyek ini ditargetkan tahun 2031 mendatang.
[Gambas:Video CNBC]