China Juara 1 Tujuan Ekspor RI, Nilainya US$64,82 M
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan ekspor RI meningkat 6,15% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ekspor sepanjang Januari - Desember yang mencapai US$ 282,21 miliar, lebih tinggi dari impor kumulatif pada periode yang sama US$ 241,86 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan peningkatan ekspor secara kumulatif didorong oleh ekspor industri pengolahan dan pertanian.
"Industri pengolahan menjadi pendorong utama atas utama kinerja ekspor sepanjang 2025," kata Ateng, dalam rilis data BPS, Senin (2/2/2026).
Adapun, secara keseluruhan terdapat 3 negara kawasan utama tujuan ekspor non migas. Yakni Tiongkok, Amerika Serikat, dan India.
"Perkembangan ekspor non migas kawasan utama ada 3 besar negara tujuan ekspor. Kontribusi cukup besar 42,28% dari total ekspor non migas di Indonesia selama Januari hingga Desember 2025," ujar Ateng.
Sepanjang Januari hingga Desember, negara tujuan utama ekspor nonmigas ke China nilainya mencapai US$ 64,82 miliar.
Secara rinci, besi dan baja menjadi komoditas tertinggi dengan nilai mencapai US$ 17,92 miliar atau meningkat 11,50% secara kumulatif. Komoditas terbesar kedua yakni bahan bakar mineral dengan nilai mencapai US$ 10,47 miliar dan nikel dan barang daripadanya US$ 7,86 miliar.
"Negara kawasan ekspor non migas ke China tercatat US$64,82 miliar atau naik 7,11% dibandingkan dengan Januari hingga Desember desember 2024 yang lalu dibandingkan secara kumulatif dengan yang sama tahun lalu Januari-Desember 2025," ujar Ateng.
Negara tujuan ekspor terbesar kedua adalah Amerika Serikat dengan nilai mencapai US$ 30,96 miliar dengan komoditas utamanya mesin dan perlengkapan elektrik sebesr US$ 6,03 miliar.
Komoditas kedua yakni pakaian dan aksesorinya berupa rajutan senlai US$ 2,81 miliar dan alas kaki sebesarUS$ 2,80 miliar.
Tak hanya China dan AS, India menjadi negara tujuan ekspor ketiga sebesar US$ 18,32 miliar. Komoditas utama penyumbang yakni bahan bakar mineral US$ 5,35 miliar, lemak dan minyak hewani/nabati US$ 3,56 miliar serta komoditas besi dan baja US$ 1,63 miliar.
(haa/haa)