Motor Listrik RI Bakal 'Dilempar' ke Myanmar-Bangladesh, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah melemahnya penjualan domestik akibat absennya subsidi, industri sepeda motor listrik mulai mengalihkan fokus ke pasar ekspor. Sejumlah negara di Asia dan ASEAN dinilai memiliki potensi besar karena belum memiliki basis produksi kendaraan listrik roda dua.
Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Keuangan mulai membuka peluang dukungan pembiayaan ekspor bagi industri motor listrik nasional.
"Ada dukungan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia melalui Bank Exim, termasuk pembiayaan dan asuransi ekspor," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Senin (2/2/2026).
Selain pembiayaan, pemerintah juga berupaya menekan risiko melalui pemetaan mitra dagang. Kementerian Perdagangan disebut terlibat dalam menilai kredibilitas calon mitra di negara tujuan ekspor.
"Dari Perdagangan itu dilakukan mapping supaya risiko ekspor bisa diperkecil," kata Budi.
Ia mengungkapkan, minat terhadap motor listrik Indonesia datang dari berbagai negara. Myanmar dan Bangladesh menjadi dua pasar yang tengah dijajaki melalui fasilitasi kedutaan besar dan agenda business matching.
"Kemarin di Myanmar kita FGD dan business matching. Beberapa APM sudah intens komunikasi ke sana," ujarnya.
Foto: Penjualan motor listrik di awal tahun cukup tersendat imbas tidak adanya subsidi Rp 7 juta dari pemerintah. Pantauan CNBC Indonesia di dua diler motor listrik wilayah Jakarta Selatan pada Senin (13/1/2024) minim pengunjung yang datang. (Dok. Istimewa)Penjualan motor listrik di awal tahun cukup tersendat imbas tidak adanya subsidi Rp 7 juta dari pemerintah. Pantauan CNBC Indonesia di dua diler motor listrik wilayah Jakarta Selatan pada Senin (13/1/2024) minim pengunjung yang datang. (Dok. Istimewa) |
Sementara di Bangladesh, Aismoli dijadwalkan mengikuti Dhaka Expo pada Mei mendatang untuk membuka peluang kerja sama produksi maupun distribusi.
Tak hanya itu, penjajakan juga dilakukan dengan India dan Taiwan. India dinilai menarik karena komitmen subsidinya yang jangka panjang, sementara Taiwan membuka peluang kerja sama industri.
"Banyak negara tertarik karena Indonesia sudah punya banyak merek motor listrik dan relatif leading di ASEAN," ujar Budi.
Ia menambahkan, populasi pengguna yang besar dan ekosistem industri yang mulai terbentuk membuat Indonesia memiliki daya tawar kuat di pasar regional.
"Bahkan di ASEAN, belum ada asosiasi khusus motor listrik seperti Aismoli," pungkasnya.
(fys/wur)[Gambas:Video CNBC]
Foto: Penjualan motor listrik di awal tahun cukup tersendat imbas tidak adanya subsidi Rp 7 juta dari pemerintah. Pantauan CNBC Indonesia di dua diler motor listrik wilayah Jakarta Selatan pada Senin (13/1/2024) minim pengunjung yang datang. (Dok. Istimewa)