Penjualan Mobil RI Tahun Lalu Dibalap Malaysia, 2026 Ditarget Segini
Jakarta, CNBC Indonesia - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mematok target penjualan mobil nasional pada 2026 sebesar 850.000 unit. Target tersebut naik tipis sekitar 5,4% dibanding realisasi 2025 yang berada di angka 803.687 unit.
Target kenaikan ini terbilang moderat, mengingat capaian tahun sebelumnya justru mengalami kontraksi 7,2% dari 2024 yang sempat menyentuh 865.723 unit. Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan hasil kesepakatan internal asosiasi dengan mempertimbangkan berbagai kondisi pasar terkini.
"Kita kemarin sudah sepakat, pada tahun ini kita mematok target sebanyak 850 ribu unit," kata Kukuh Kumara di Jakarta dikutip Senin (2/2/2026).
Meski demikian, Gaikindo masih membuka ruang penyesuaian apabila situasi industri dan kebijakan pemerintah mengalami perubahan sepanjang tahun berjalan.
"Kalau misalnya ada perkembangan baru, ada kebijakan baru, ya mungkin kita akan lihat lagi," katanya.
Optimisme industri juga disandarkan pada rangkaian pameran otomotif dan peluncuran model baru yang dijadwalkan berlangsung setelah periode Lebaran. Momentum tersebut diyakini dapat menjadi pemicu peningkatan transaksi hingga akhir tahun.
"Harapannya setelah itu harusnya kita bisa sedikit agresif. Karena cukup panjang waktunya dari Maret sampai ke akhir tahun nanti," kata Kukuh.
Di sisi lain, Malaysia menunjukkan dinamika yang berbeda. Malaysia Automotive Association (MAA) mencatat penjualan mobil sepanjang 2025 mencapai 820.752 unit, naik tipis 0,5% dibanding 2024 yang berada di angka 816.747 unit. Angka ini sekaligus menandai dua tahun beruntun pasar otomotif Negeri Jiran menembus level 800 ribu unit, sebuah rekor baru dalam sejarah industri mereka.
Performa tersebut membuat selisih volume penjualan mobil antara Indonesia dan Malaysia semakin menyempit. Pada 2025, penjualan mobil retail Indonesia tercatat sekitar 833 ribu unit. Bahkan dalam periode Januari hingga November 2025, Malaysia sempat mencatat penjualan sekitar 720 ribu unit, sedikit lebih tinggi dibanding Indonesia yang berada di kisaran 710 ribu unit pada periode yang sama.
Namun, proyeksi 2026 di Malaysia justru menunjukkan arah perlambatan. MAA memperkirakan penjualan mobil tahun depan akan turun menjadi sekitar 790 ribu unit atau terkoreksi 3,8% dari capaian 2025. Sejumlah risiko mulai dari pertumbuhan ekonomi yang moderat, ketidakpastian perdagangan global, tekanan inflasi, hingga potensi perubahan insentif pajak kendaraan listrik dipandang berpotensi menahan laju pasar.
Kendati demikian, Presiden MAA Mohd Samsor menilai fondasi konsumsi domestik masih cukup kuat untuk menjaga stabilitas industri.
"Ini termasuk angka pengangguran rendah yang mendukung pendapatan jadi stabil dan kepercayaan diri konsumen. Di samping itu juga permintaan akan kendaraan terjangkau dan efisien bahan bakar juga kian menguat, khususnya dari merek nasional," lanjut dia.
Selain faktor konsumsi, pengembangan ekosistem kendaraan listrik dinilai menjadi kartu penting bagi Malaysia dalam menarik minat investor asing, baik dalam bentuk penanaman modal baru maupun alih teknologi. Kehadiran merek dan model kendaraan baru juga dipandang dapat menjadi katalis tambahan, terutama jika dibarengi strategi promosi yang lebih agresif dari para produsen.
Mohd Samsor juga menyoroti penerimaan konsumen terhadap kendaraan listrik yang semakin luas sebagai faktor pendukung penjualan.
"Mencerminkan kekuatan berkelanjutan industri dan transisinya menuju mobilitas lebih canggih dan berkelanjutan," katanya.
(fys/wur)