Pengangguran Malaysia Terendah, Jualan Mobil Tahun 2025 Laku Keras
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri otomotif Malaysia sepanjang 2025 tampil mengejutkan. Malaysia Automotive Association (MAA) mencatat penjualan mobil sepanjang 2025 menembus 820.752 unit, naik tipis 0,5% dibandingkan 2024 yang mencapai 816.747 unit.
Capaian tersebut membuat Malaysia dua tahun berturut-turut menembus level 800 ribu unit, sebuah rekor baru dalam sejarah otomotif mereka.
Sebagai perbandingan, penjualan mobil retail di Indonesia pada 2025 tercatat sekitar 833 ribu unit. Bahkan pada periode Januari-November 2025, penjualan Malaysia sudah mencapai sekitar 720 ribu unit, sedikit lebih tinggi dibanding Indonesia yang berada di kisaran 710 ribu unit pada periode yang sama.
Sepanjang tahun 2025, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan wholesales Indonesia sepanjang 2025 sebesar 803.687 unit, turun 7,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan retail juga melemah sekitar 6,3% dari 889.680 unit pada 2024 menjadi 833.712 unit pada 2025.
Lonjakan performa Malaysia tak datang tanpa sebab.
Presiden MAA Mohd Shamsor Mohd Zain menilai kondisi ekonomi domestik yang relatif tangguh menjadi salah satu penopang utama industri otomotif di negaranya. Penurunan suku bunga acuan overnight policy rate (OPR) menjadi 2,75% sejak Juli 2025 membuat pembiayaan kendaraan semakin kondusif, diikuti stabilitas sosial-politik yang menjaga kepercayaan bisnis.
"Pasar tenaga kerja yang positif juga mendukung industri dengan angka pengangguran terendah mencapai level terendah dalam 11 tahun yakni 2,9 persen," ungkap Mohd Samsor, dikutip dari kantor berita Bernama, Senin (2/2/2026).
Ia menambahkan, merek nasional masih menjadi tulang punggung pasar otomotif Malaysia. Sepanjang 2025, merek nasional menyumbang 511.468 unit atau sekitar 62,3% pangsa pasar, jauh mengungguli merek non-nasional yang mencatatkan 309.284 unit atau 37,7%.
Dari sisi struktur pasar, Malaysia juga mulai menunjukkan kematangan. Permintaan domestik yang meningkat sejalan dengan pemulihan pasar ekspor menciptakan ekosistem yang relatif seimbang. Presiden MAA itu juga menyoroti penerimaan konsumen terhadap kendaraan listrik yang semakin luas sebagai faktor pendukung penjualan.
"Mencerminkan kekuatan berkelanjutan industri dan transisinya menuju mobilitas lebih canggih dan berkelanjutan," katanya.
2026 Tak Secemerlang 2025?
Meski tampil impresif pada 2025, tantangan tetap membayangi industri otomotif Malaysia ke depan. MAA memproyeksikan penjualan mobil pada 2026 justru turun menjadi sekitar 790 ribu unit atau terkoreksi 3,8% dari capaian 2025. Sejumlah faktor risiko seperti pertumbuhan ekonomi yang moderat, ketidakpastian perdagangan global, tekanan inflasi, hingga potensi perubahan insentif pajak kendaraan listrik diperkirakan bakal memengaruhi pasar.
Kendati begitu, Mohd Samsor masih melihat ada ruang optimisme. Ia menilai tingkat pengangguran yang rendah akan tetap menopang stabilitas pendapatan dan kepercayaan konsumen, ditambah tren permintaan terhadap kendaraan terjangkau dan hemat bahan bakar yang terus menguat, khususnya dari merek nasional.
"Ini termasuk angka pengangguran rendah yang mendukung pendapatan jadi stabil dan kepercayaan diri konsumen. Di samping itu juga permintaan akan kendaraan terjangkau dan efisien bahan bakar juga kian menguat, khususnya dari merek nasional," lanjut dia.
Pengembangan ekosistem kendaraan listrik juga dipandang sebagai faktor penting yang dapat memperkuat daya tarik Malaysia di mata investor asing, mulai dari masuknya investasi baru hingga transfer teknologi. Selain itu, kehadiran merek dan model baru dinilai bisa menjadi stimulus pasar, ditopang strategi promosi yang lebih agresif.
Di sisi lain, Indonesia masih harus menghadapi kenyataan bahwa pasar otomotif domestik sedang dalam fase perlambatan. Meski tetap memimpin ASEAN, tekanan daya beli, perubahan regulasi, serta kenaikan biaya kepemilikan kendaraan menjadi tantangan tersendiri bagi industri otomotif nasional.
Adapun angka penjualan mobil Malaysia sempat mengancam posisi RI. Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Putu Juli Ardika mengungkapkan salah satu faktor kunci yang mendorong laju penjualan mobil di Malaysia adalah kebijakan pemerintah yang agresif dalam mendukung industri otomotif domestik, khususnya mobil nasional.
Insentif dan stimulus dinilai diberikan secara konsisten sehingga mampu menjaga permintaan tetap tinggi.
"Kalau kemarin yang kita pelajari ya salah satunya dia memberikan suatu insentif yang luar biasa bagi mobil nasionalnya. Dan dia juga memberikan ya stimulus-stimulus lah ke mobil mobil nasional," ujarnya.
situasi ini tidak bisa dianggap sepele karena berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap Indonesia. Jika daya saing industri otomotif nasional terus melemah, Indonesia berisiko kehilangan posisi strategisnya sebagai basis produksi kendaraan di ASEAN.
"Sudah kita petakan semua apa-apa yang memang perlu dilakukan untuk bisa mendorong ya mendorong, paling tidak jangan sampai kita jatuh di bawah, sekarang kan Malaysia paling tinggi di ASEAN. Sebab kalau sampai kita itu jatuh seperti itu, keyakinan investasinya kan akan berbeda sekali. Itu dari sisi Gaikindo," kata Putu.
Dengan tren ini, persaingan Indonesia dan Malaysia di sektor otomotif kawasan diperkirakan akan semakin ketat. Jika Indonesia tak mampu memulihkan laju penjualannya, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan posisi "raja otomotif ASEAN" akan benar-benar mendapat tantangan serius dari negeri jiran.
[Gambas:Video CNBC]