Internasional

Geger 'Penjahat Kelamin' AS Incar Aset Negara Arab, Gandeng Mossad

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Senin, 02/02/2026 07:10 WIB
Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah dokumen rahasia yang baru saja dirilis mengungkap rencana gelap seorang kolega dari mendiang pemodal asal Amerika Serikat (AS) sekaligus terpidana kejahatan seksual, Jeffrey Epstein, untuk mengakses aset-aset negara Libya yang sedang dibekukan. Rencana ambisius ini memicu geger karena melibatkan upaya untuk mencari dukungan potensial dari mantan pejabat intelijen Inggris dan Israel.

Rangkaian dokumen yang dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada hari Jumat (30/1/2026) tersebut mencakup sebuah email yang dikirimkan kepada Jeffrey Epstein pada tahun 2011. Dalam pesan elektronik itu, pengirim menguraikan apa yang ia gambarkan sebagai peluang finansial dan hukum yang terkait dengan ketidakpastian politik dan ekonomi di Libya pada masa itu.

Email tertanggal Juli 2011 ini dikirimkan beberapa bulan setelah pemberontakan yang didukung NATO terhadap Muammar Gaddafi dimulai. Berdasarkan isi email, terdapat dana sekitar US$ 80 miliar atau setara dengan Rp 1.344 triliun (asumsi kurs Rp 16.800/US$) milik Libya yang diyakini dibekukan secara internasional, termasuk sekitar US$ 32,4 miliar (Rp 544,3 triliun) yang berada di Amerika Serikat.


"Dan diperkirakan angka sebenarnya ada di antara tiga hingga empat kali lipat dari jumlah ini dalam bentuk aset kedaulatan, aset yang dicuri, dan aset yang disalahgunakan," tulis isi email tersebut kepada Jeffrey Epstein dikutip Al Jazeera.

Lebih lanjut, sang pengirim menyusun strategi keuntungan yang sangat besar dari dana tersebut. Ia menyebut komisinya bisa menapai miliaran dollar.

"Jika kita dapat mengidentifikasi atau memulihkan 5% hingga 10% dari uang ini dan menerima 10% hingga 25% sebagai kompensasi, kita sedang membicarakan tentang miliaran dolar," tambahnya dalam dokumen tersebut.

Pengirim email itu juga menyatakan bahwa anggota tertentu dari mantan dinas intelijen luar negeri Inggris, MI6, dan badan intelijen luar negeri Israel, Mossad, telah menyatakan kesediaannya untuk membantu dalam upaya mengidentifikasi dan memulihkan "aset-aset yang dicuri" milik Libya tersebut.

Selain mengincar harta yang dibekukan, email tersebut juga merujuk pada ekspektasi bahwa Libya akan perlu mengeluarkan setidaknya US$ 100 miliar (Rp 1.680 triliun) di masa depan untuk rekonstruksi dan pemulihan ekonomi pasca-konflik.

"Namun, umpan yang sebenarnya adalah jika kita bisa menjadi orang kepercayaan mereka karena mereka berencana membelanjakan setidaknya US$ 100 miliar tahun depan untuk membangun kembali negara mereka dan memulihkan ekonomi," ungkap pengirim dalam email tersebut.

Email tersebut mencirikan Libya sebagai wilayah yang memiliki cadangan energi yang signifikan dan tingkat melek huruf yang kuat. Faktor-faktor ini dinilai sebagai hal yang sangat menguntungkan bagi inisiatif keuangan dan hukum yang sedang dirancang bersama Jeffrey Epstein.

Dokumen itu juga menyatakan bahwa diskusi telah dilakukan dengan beberapa firma hukum internasional untuk bekerja dengan sistem biaya kontinjensi atau pembagian hasil jika misi tersebut berhasil. Temuan ini semakin memperpanjang daftar panjang skandal dan upaya eksploitasi yang dilakukan oleh jaringan Epstein semasa hidupnya.


(tps/tps)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Tandatangani RUU Untuk Rilis Dokumen Jeffrey Epstein