Panas! AS Tiba-Tiba 'Serbu' Pangkalan China, Dalih Keamanan Nasional
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Amerika Serikat (AS) secara resmi telah melakukan inspeksi pertama dalam enam tahun terakhir terhadap stasiun penelitian milik China di Antartika. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Washington kini menaruh perhatian serius terhadap kehadiran Beijing di Kutub Selatan, menyusul ketegangan serupa yang terjadi di Kutub Utara.
Tur inspeksi yang berlangsung pada pertengahan Januari ini dilakukan di tengah perhatian global terhadap keamanan di Arktik atau Kutub Utara. Sebelumnya, upaya agresif Presiden Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark sempat memicu protes sekutu NATO demi memperkuat garis depan keamanan AS. Kini, inspeksi di Antartika menunjukkan bahwa kekhawatiran AS juga mulai diarahkan ke Kutub Selatan.
"Amerika Serikat menggunakan haknya untuk melakukan inspeksi guna melindungi keamanan nasional kami dengan memverifikasi bahwa semua pihak mematuhi Perjanjian Antartika dan Protokol Lingkungannya, termasuk ketentuan yang melarang penggunaan militer dan pertambangan," tegas pejabat Departemen Luar Negeri AS kepada Newsweek, Sabtu (31/1/2026).
Washington mengkhawatirkan bahwa Beijing menggunakan lima stasiun penelitian yang dioperasikannya untuk tujuan militer sekaligus sipil. Alexander B. Gray, mantan pejabat Gedung Putih sekaligus CEO American Global Strategies, mengungkapkan kecurigaan mendalam terkait aktivitas tersebut.
"Kami memiliki alasan kuat untuk menganggap bahwa ada pangkalan-pangkalan di Antartika yang dimiliterisasi oleh China dan mereka menggunakan personel PLA (Tentara Pembebasan Rakyat) dan kemungkinan personel MSS (Kementerian Keamanan Negara) yang tidak dideklarasikan, di mana hal itu merupakan pelanggaran terhadap Perjanjian Antartika," ujar Gray yang merupakan mantan asisten deputi Trump dan kepala staf Dewan Keamanan Nasional.
Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington D.C., Liu Pengyu, membantah keras klaim tersebut melalui pernyataan tertulis.
"Sebagai pihak konsultatif dalam Perjanjian Antartika, China selalu memastikan bahwa kegiatan kami konsisten dengan ketentuan Sistem Perjanjian Antartika. Perdamaian, stabilitas, dan pembangunan berkelanjutan di wilayah kutub adalah demi kepentingan bersama seluruh umat manusia. China siap untuk meningkatkan pertukaran dan mempromosikan kerja sama dengan pihak lain terkait wilayah kutub," kata Liu.
Pejabat AS mengonfirmasi bahwa delegasi yang terdiri dari pejabat Departemen Luar Negeri, Yayasan Sains Nasional (NSF), dan Departemen Pertahanan melakukan perjalanan ke Antartika pada 16-20 Januari. Juru bicara Departemen Luar Negeri menyatakan tujuan utama misi ini adalah untuk memverifikasi bahwa semua aktivitas di benua es tersebut bersifat damai. Inspeksi semacam ini dinyatakan legal di bawah Perjanjian Antartika.
"Amerika Serikat menaruh perhatian saksama terhadap semua stasiun di Antartika dan akan memanfaatkan semua alat verifikasi serta kepatuhan yang tersedia dalam Perjanjian Antartika untuk membantu memastikan semua aktivitas di Antartika hanya untuk tujuan damai. Kami menegaskan kembali komitmen berkelanjutan kami untuk bekerja sama dengan semua negara yang memiliki tujuan yang sama," tambah pejabat Departemen Luar Negeri tersebut.
Tim inspeksi mengunjungi beberapa titik strategis, termasuk stasiun Davis dan Law milik Australia, stasiun Zhongshan milik China, stasiun Bharati milik India, dan stasiun Progress milik Rusia. Stasiun Zhongshan sendiri merupakan pangkalan tertua kedua China di benua tersebut, sementara yang terbaru adalah Stasiun Qinling di Pulau Inexpressible yang resmi dibuka pada 2024.
Saat ini, AS dan China masing-masing memiliki tiga stasiun permanen di Antartika. Namun, AS memiliki tiga stasiun musiman sementara China memiliki dua. Laporan dari media Selandia Baru dan China menyebutkan bahwa Beijing berencana membangun stasiun keenam.
Sekretariat Perjanjian Antartika di Buenos Aires, Argentina, menyatakan pihaknya "tidak berwenang untuk mengomentari program atau kebijakan Antartika dari negara-negara anggota." Berdasarkan perjanjian internasional tersebut, Antartika hanya boleh digunakan untuk tujuan damai dan ilmiah.
Dalam proses inspeksi ini, Australia dan Selandia Baru memberikan bantuan logistik. Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa temuan dari perjalanan ini akan dipresentasikan pada Pertemuan Konsultatif Perjanjian Antartika di Hiroshima, Jepang, pada bulan Mei mendatang.
[Gambas:Video CNBC]