Gold Outlook 2026

Bos Antam Akui Efek Positif Bea Keluar Bagi Perusahaan

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Jumat, 30/01/2026 16:47 WIB
Foto: Direktur Komersial PT Aneka Tambang Tbk, Handi Sutanto menyampaikan paparan dalam acara Gold Outlook 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mengakui kebijakan pemerintah dalam hal ini pengenaan bea keluar ekspor terhadap emas sebesar 15% berdampak positif. Utamanya, Antam sebagaimana BUMN, mengupayakan sumber emas dari dalam negeri.

Seperti diketahui, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa sudah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80 Tahun 2025 tentang Penetapan Barang Ekspor Berupa Emas.

Direktur Komersial PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Handi Sutanto menyampaikan, bahwa semenjak aturan itu keluar, dari sisi pemain hulu pertambangan memang menjadi tidak menarik jika dieskpor. Namun, sebagai produsen emas yang berasal dari tubuh bumi Indonesia dan dimurnikan dari Indonesia menjadi satu hal yang berbeda.


"Bu Oka saya salah satu yang tadi kena kebijakan itu. Tapi kenanya positif. Jadi bea keluar tersebut memang membuat PT Antam selalu mengupayakan sumber sumber dari domestik," terang Handi dalam Gold Outlook 2026, Jumat (30/1/2026).

Sementara itu di sisi lain, saat ini Antam saat ini sedang menghadapi membludaknya minat masyarakat terhadap emas batangan. Yang akhir-akhir ini telah memicu antrean panjang.

Bahkan, trafik pembelian emas Antam tercatat meningkat hingga 100 kali lipat dibandingkan kondisi normal.

Handi Sutanto menyadari meningkatnya permintaan produk emas Antam memunculkan berbagai keluhan di media sosial karena sulitnya mendapatkan produk emas batangan.

"Traffic yang terjadi, paling tidak sebulan terakhir, gak usah jauh-jauh, secara website, secara antrian, itu bisa sampai 100 kali lipat daripada biasanya," kata Handi.

Menurut dia, meningkatnya permintaan emas ANTAM juga memunculkan fenomena jastip atau percaloan. Adapun, sebelum sistem antrian online diterapkan banyak pembeli menggunakan jasa pihak ketiga untuk mengantri.

"Jadi orang itu kadang pakai jasa titip, antri banyak, dan itu menyebabkan keresahan, tidak nyaman mengantrinya, mengular, menimbulkan konflik, dan segala macam. Maka kami tata, kami pakai sistem online. Sehingga masyarakat bisa datang seperti kita mengurus perpanjangan paspor, ada slot waktunya, sehingga itu lebih teratur," ujarnya.

Meski sistem sudah ditata, Handi mengaku pihaknya masih menerima keluhan dari masyarakat yang merasa kesulitan mendapatkan emas karena keterbatasan kuota. "Cuman masyarakat tetap mengeluh, ah ini jarang dapat kami, ini terkesan dijatahkan jadinya," ujarnya.


(pgr/pgr)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Permintaan Emas Melonjak,Antrian Beli Emas ANTAM Naik 100 Kali