Jerman Tiba-Tiba Warning Dolar AS, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Status dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang cadangan global, berisiko dipertanyakan dalam waktu dekat. Peringatan ini disampaikan Otoritas Pengawasan Keuangan Federal Jerman (BaFin) dalam laporan perkiraan tahunan terbarunya.
BaFin menilai dolar AS menghadapi sejumlah tekanan serius, mulai dari potensi kekurangan likuiditas, meningkatnya guncangan geopolitik, hingga risiko politisasi lembaga-lembaga keuangan. Kondisi tersebut dinilai dapat menggerus kepercayaan pasar global terhadap peran dolar.
"Risikonya tetap ada bahwa pasar akan mempertanyakan peran dolar AS sebagai mata uang cadangan global," kata Presiden BaFin, Mark Branson, dalam laporan yang dirilis Rabu waktu setempat, seperti dikutip RT, Jumat (30/1/2026).
Ia secara khusus menyoroti dampak politisasi terhadap stabilitas sistem keuangan internasional. Menurut Branson, "upaya drastis untuk mempolitisasi lembaga-lembaga", berpotensi merusak efektivitas kerja sama global, terutama ketika dunia menghadapi krisis ekonomi atau keuangan.
Peringatan BaFin muncul di tengah pelemahan tajam dolar AS. Pada Selasa lalu, Indeks Spot Dolar Bloomberg mencatat penurunan harian terbesar sejak April tahun lalu. Saat itu, pasar bereaksi terhadap agenda tarif global yang diumumkan Presiden AS Donald Trump, yang kembali memicu ketidakpastian kebijakan ekonomi Washington.
BaFin juga menegaskan kekhawatirannya terhadap potensi "kekurangan likuiditas" akibat eskalasi geopolitik. Risiko ini disebut sebagai faktor "yang sangat penting" dan dapat memicu tekanan mendadak di pasar keuangan global.
Sementara itu, Bloomberg melaporkan para pedagang semakin agresif memasang posisi taruhan terhadap pelemahan dolar AS. Sentimen pasar terhadap prospek jangka panjang dolar disebut berada pada level paling pesimistis sejak Mei 2025.
Di sisi lain, Trump menepis kekhawatiran tersebut. Ia menyatakan dolar AS masih "berkinerja baik" dan menegaskan tidak akan melakukan intervensi berlebihan, karena ingin mata uang tersebut "mencari levelnya sendiri."
Sebelumnya, tekanan terhadap dominasi dolar juga tercermin dalam data Dana Moneter Internasional (IMF). Dalam laporan Oktober lalu, IMF mencatat pangsa dolar dalam cadangan devisa global turun ke level terendah dalam tiga dekade, yakni 56,3% dari total cadangan yang dialokasikan pada periode April-Juni tahun lalu.
Namun, IMF menegaskan penurunan tersebut lebih disebabkan oleh perubahan valuasi mata uang. Ini bukan aksi penjualan besar-besaran oleh bank sentral.
(sef/sef)