Drakor & Dracin Hati-Hati, Jepang Mulai "Diplomasi Sumo"
Jakarta, CNBC Indonesia - Jepang resmi kembali mengaktifkan "diplomasi sumo" sebagai senjata utama soft power untuk memperkuat pengaruhnya di panggung internasional. Setelah sukses menggelar tur di London tahun lalu, Asosiasi Sumo Jepang (JSA) kini tengah mempersiapkan keberangkatan para pegulat kelas berat mereka ke Paris pada Juni 2026 mendatang.
Langkah ini menandai kembalinya tradisi lama yang sempat vakum selama beberapa dekade. Terakhir kali para pesumo menginjakkan kaki di Prancis adalah pada tahun 1995.
David Rothschild, promotor turnamen Paris, mengungkapkan bahwa proses negosiasi dengan JSA kini berjalan sangat cepat dibandingkan satu dekade lalu. Namun, ia menekankan bahwa JSA memberikan syarat mutlak terkait kesucian tradisi ini.
"Setelah banyak pertukaran informasi, semuanya dipercepat; dalam sebulan praktis kami sudah melakukan semuanya," ujar Rothschild, dikutip AFP, Jumat (30/1/2026).
"Sumo harus selalu dianggap sebagai tradisi. Ini bukan sekadar olahraga dan ini bukan hiburan. Dalam setiap diskusi, mereka ingin memastikan saya tidak akan melakukan sesuatu yang tidak pantas, bahwa saya akan bersikap hormat," tambahnya.
Strategi menggunakan atlet bertubuh raksasa sebagai duta budaya sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1854. Kala itu Jepang pertama kali membuka diri kepada Amerika Serikat di bawah Komodor Matthew Perry.
Perry menulis dalam jurnalnya bahwa pertunjukan tersebut "biadab". Pegulat, ujarnya, "lebih mirip banteng daripada manusia."
Namun profesor studi Asia di Penn State University, Jessamyn R. Abel, punya tanggapan lain. Ia menilai pandangan tersebut lahir karena "Perry mengamati segala sesuatu tentang Jepang dari posisi ketidaktahuan total" tentang negara tersebut.
"Berbeda dengan era modern, bagi penonton yang sudah menganggap Jepang itu 'keren', sumo justru memperkuat gagasan tersebut," tuturnya.
Potensi Besar?
Banyak analis menilai pemerintah Jepang kini melihat peluang besar dalam sektor pariwisata berbasis budaya. Profesor madya di Universitas Waseda, Kosuke Takata, menyatakan bahwa "lembaga pemerintah untuk olahraga dan pariwisata kini sedang berupaya mempromosikan 'wisata seni bela diri', tidak hanya sumo, tetapi juga kendo dan karate".
Meskipun diplomasi ini pernah sangat efektif saat menormalisasi hubungan dengan China pada 1973, pakar sejarah Erik Esselstrom mengingatkan adanya perbedaan konteks zaman. Saat itu, China "relatif lemah dan Jepang cukup kuat secara ekonomi", sehingga kedua negara berada "dalam momen penemuan kembali satu sama lain".
Para pegulat sendiri menyambut antusias tugas diplomatik ini. Nakadachi, yang pernah bertanding di Paris pada 1995, mengenang serunya bertarung di luar negeri.
"Kami bertarung dengan serius, tetapi di luar itu kami sangat senang bisa menikmati Paris," katanya.
"Tempat di mana salah satu adegan dari film 'The Devil Wears Prada' diambil," ujar pegulat aktif lainnya, Wakamotoharu.
(tps/sef)[Gambas:Video CNBC]