Internasional

2 Raksasa NATO Deal dengan China, Trump Beri Ancaman Serius

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Jumat, 30/01/2026 15:00 WIB
Foto: Presiden AS Donald Trump (REUTERS/Jonathan Ernst)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melemparkan peringatan keras kepada dua sekutu terdekatnya yang juga anggota utama NATO, Inggris dan Kanada. Trump menyebut langkah kedua negara tersebut untuk mempererat hubungan bisnis dengan China sebagai tindakan yang "sangat berbahaya" dan berisiko merusak stabilitas aliansi Barat.

Di sela-sela pemutaran perdana film "Melania" di Kennedy Center, Trump secara blak-blakan mengomentari upaya Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer dan PM Kanada Mark Carney yang mulai mendekat ke Beijing. "Sangat berbahaya bagi mereka untuk melakukan itu," ujarnya dikutip CNBC International, Jumat (30/1/2026).

Komentar Trump terhadap Kanada jauh lebih tajam. Ia mengancam akan memberlakukan tarif 100% pada semua barang Kanada jika Ottawa melanjutkan kesepakatan dagang dengan Beijing.


"Sangat berbahaya bagi Kanada untuk terlibat bisnis dengan China. Kanada tidak dalam kondisi baik... Anda tidak bisa melihat China sebagai jawaban," tegas Trump.

"Presiden Xi adalah teman saya, saya mengenalnya dengan sangat baik... Hal pertama yang akan mereka lakukan adalah mengatakan Anda tidak diizinkan lagi bermain hoki es. Kanada tidak akan menyukai itu. China akan melumat mereka hidup-hidup."

Peringatan keras ini muncul saat Inggris dan China justru tengah berupaya mencairkan hubungan setelah bertahun-tahun mengalami ketegangan. Starmer melakukan kunjungan bersejarah selama empat hari ke China, yang menjadi kunjungan pertama pemimpin Inggris dalam delapan tahun terakhir.

Dari kunjungan ini, Beijing setuju memangkas tarif impor wiski asal Inggris dari 10% menjadi 5% dan memberikan fasilitas bebas visa kunjungan di bawah 30 hari. Di sektor industri, raksasa farmasi AstraZeneca mengumumkan komitmen investasi sebesar US$ 15 miliar (sekitar Rp 252 triliun) di China hingga tahun 2030 untuk memperkuat riset dan manufaktur.

"Ini adalah akses yang sangat penting, simbol dari apa yang sedang kita lakukan dengan hubungan ini," kata Starmer.

Langkah serupa diambil Kanada di bawah Mark Carney. Ottawa baru saja menandatangani perjanjian perdagangan untuk mendiversifikasi pasar di tengah friksi yang terus berlanjut dengan Washington. Starmer sendiri menegaskan bahwa Inggris tidak perlu memilih antara Washington atau Beijing.

"Kami memiliki hubungan yang sangat erat dengan AS-tentu saja, kami ingin-dan kami akan mempertahankan bisnis tersebut, bersama dengan keamanan dan pertahanan," ujarnya kepada Bloomberg.

Para analis menilai manuver Inggris dan Kanada ini merupakan upaya mencari keamanan ekonomi di tengah kebijakan luar negeri Trump yang sulit diprediksi dengan agenda "America First"-nya. Sejak akhir 2025 hingga awal 2026, sederet pemimpin negara Barat seperti Prancis, Korea Selatan, hingga Finlandia juga telah menyambangi Beijing.

Gabriel Wildau, Managing Director di Political Consultancy Teoneo, menjelaskan bahwa posisi Inggris yang terjepit di antara dua kekuatan super bersifat struktural. Ia menambahkan bahwa Starmer kemungkinan besar tidak akan melakukan reset hubungan secara total, melainkan hanya "penyeimbangan kembali" guna menghindari perhatian yang tidak diinginkan dari sekutu Barat lainnya.

"Starmer waspada agar tidak menjauhkan diri dari Washington. Namun, pemerintah-pemerintah ini mencari 'opsionalitas' dengan menciptakan koalisi khusus isu dengan China dan satu sama lain untuk mengurangi ketergantungan pada AS," ungkap Wildau.

"Daripada penyelarasan kembali (realignment), mereka lebih memilih membangun kerja sama spesifik yang menguntungkan ekonomi domestik mereka," pungkasnya.


(tps/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Surplus Perdagangan China Tembus Rekor US 1,2 Triliun