Inflasi Hantui RI, Pemerintah Siapkan 'Obat Mujarab'
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan inflasi 2026 berpotensi menghadapi tekanan pada kuartal I-2026 yang disebabkan oleh ketidakpastian global (imported inflation), iklim dan faktor cuaca, serta pola musiman HBKN Ramadhan dan Idul Fitri.
Untuk itu, Pemerintah menyiapkan stimulus berupa pemberian diskon transportasi dan diskon tarif tol, serta pemberian bantuan pangan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang berada pada desil 1 s.d. 4, di bulan Februari dan Maret 2026.
"Pemerintah juga terus mendorong di daerah bencana untuk dukungan infrastruktur dan logistik agar kita bisa menjaga, dan tadi disampaikan bahwa di daerah tersebut inflasi sudah mulai turun. Kemudian untuk menjelang Hari Raya Lebaran nanti, beberapa program telah dipersiapkan, termasuk untuk diskon transportasi, baik itu pesawat, kereta api, angkutan laut, angkutan darat, dan juga jalan tol itu sudah dipersiapkan. Demikian pula untuk bantuan sosial, baik itu beras maupun minyak kita sedang siapkan juga," ujar Menko Airlangga dalam keterangan pers usai HLM TPIP, dikutip Jumat (30/1/2026).
Terkait inflasi pangan bergejolak atau volatile food, terutama makanan, Airlangga menegaskan pemerintah akan menjaga di kisaran 3 sampai dengan 5%. Pemerintah juga mendorong agar koordinasi antara Daerah dan Pusat terus dijaga, terutama untuk pengadaan pasokan pangan antarwaktu dan antarwilayah, melalui peningkatan produktivitas dan pembiayaan, meningkatkan kelancaran logistik untuk beberapa komoditas seperti bawang merah, bawang putih, dan juga tentu yang penting mengenai beras,
Selain itu, dalam koordinasi antara Daerah dan Pusat, pemerintah mendorong perumusan kebijakan administered prices yang mempertimbangkan timing, sequencing, dan magnitude untuk mendukung stabilitas harga dan daya beli masyarakat, serta memperkuat sinergi kebijakan dan komunikasi untuk mengelola ekspektasi inflasi masyarakat.
Adapun, dengan pencapaian inflasi tahun 2025 yang sebesar 2,92% (yoy) dan terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%, Airlangga menilai ini menunjukkan keberhasilan sinergi kebijakan antara Pemerintah dan Bank Indonesia.
"Sinergi kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal Pemerintah dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga inflasi sesuai dengan sasaran," tegasnya.
(haa/haa)[Gambas:Video CNBC]