Benarkah Pabrikan Jepang Gak Serius Garap BEV? Ini Jawaban Bos Suzuki

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Jumat, 30/01/2026 11:45 WIB
Foto: Deputy Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales, Donny Saputra. (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu pabrikan Jepang tertinggal dalam pengembangan kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) menjadi sorotan. Apalagi, produsen asal China dan Korea Selatan kian agresif membanjiri pasar otomotif Indonesia dengan berbagai model listrik. Bahkan, kini pabrikan mobil listrik asal Vietnam mulai serius garap pasar dalam negeri.

Lantas bagaimana dengan pabrikan Jepang yang notabene telah lebih dulu membangun industri otomotif di Indonesia?

Deputy Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales Donny Saputra menilai anggapan tersebut muncul karena cara pandang yang terlalu sempit terhadap strategi elektrifikasi. Menurutnya, pendekatan Suzuki sejak awal memang tidak menempatkan BEV sebagai satu-satunya jawaban dalam upaya menurunkan emisi karbon.


Bisa jadi, langkah ini yang kemudian jadi latar belakang Suzuki kerap masuk dalam daftar merek yang dinilai belum terlalu serius menggarap BEV.

"Kami tidak melihat penurunan emisi karbon itu hanya dari satu jalan. Strategi global Suzuki adalah multi-pathway," kata Donny dalam Suzuki media gathering dikutip Jumat (30/1/2026).

Pabrikan Jepang memilih jalur yang lebih fleksibel dengan mempertimbangkan kondisi pasar, kesiapan infrastruktur, hingga karakter konsumen di masing-masing negara. Karena itu, pengembangan teknologi ramah lingkungan tidak hanya difokuskan pada kendaraan listrik berbasis baterai.

"Kami menawarkan berbagai teknologi, mulai dari hybrid, energi alternatif lainnya, hingga battery electric vehicle. Harapannya semua teknologi ini bisa kami perkenalkan di Indonesia secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan konsumen," ujarnya.

Pendekatan ini bukan strategi lokal semata, melainkan kebijakan global Suzuki yang diterapkan di berbagai negara dengan menyesuaikan tingkat kesiapan masing-masing pasar. Di tengah tren global kendaraan listrik yang melesat cepat, termasuk di Eropa, Suzuki menilai transisi tidak bisa dipaksakan dengan satu solusi tunggal.

Strategi tersebut memungkinkan Suzuki tetap relevan dalam peta persaingan elektrifikasi tanpa mengabaikan faktor keterjangkauan harga dan kesiapan ekosistem.

"Jadi kami menawarkan beberapa solusi berkaitan dengan penurunan emisi karbon itu tidak serta-merta dalam bentuk BEV," kata Donny.

Donny juga menyinggung bahwa langkah Suzuki dalam merilis produk, termasuk di awal tahun, bukan sekadar mengejar angka penjualan jangka pendek, melainkan bagian dari upaya menjaga ritme pasar di tengah dinamika industri otomotif yang terus berubah.

Dengan pendekatan multi-pathway itu, Suzuki berharap dapat menjalani transisi menuju kendaraan ramah lingkungan secara lebih berkelanjutan, tanpa memaksakan adopsi teknologi yang belum sepenuhnya siap dari sisi infrastruktur maupun daya beli konsumen di Indonesia.

"Kami berharap semuanya nanti kami bisa introduce di Indonesia sehingga sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen dan lingkungan yang ada di sekitar konsumen tersebut," ujar Donny.

Sebagai catatan, pasar mobil listrik Indonesia mencatat lonjakan signifikan sepanjang 2025. Merek asal China tampil dominan dan menguasai daftar mobil listrik terlaris nasional, sementara pabrikan Jepang masih tertinggal jauh dari persaingan.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil listrik secara wholesales sepanjang 2025 mencapai 103.931 unit. Angka tersebut melonjak 141% dibandingkan tahun sebelumnya dan membuat kontribusi mobil listrik menembus lebih dari 12% total distribusi kendaraan nasional.

Lonjakan ini menggambarkan percepatan adopsi kendaraan listrik di dalam negeri, faktornya didorong kombinasi insentif pemerintah, harga yang semakin kompetitif, serta masuknya model-model baru dari pemain agresif.


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ekspansi Produsen EV, Incar Pasar Ojol - Alat Berat Listrik