'Tsunami' PHK Menggila, Ritel Raksasa Rumahkan 800 Karyawan
Jakarta, CNBC Indonesia - Home Depot mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 800 karyawan yang terkait dengan pusat dukungan toko di Atlanta, Amerika Serikat (AS). Bersamaan dengan itu, raksasa ritel perbaikan rumah tersebut mewajibkan karyawan korporat kembali bekerja dari kantor (work from office atau WFO) lima hari dalam sepekan.
"Tujuannya adalah untuk mendorong kelincahan yang lebih besar dan memposisikan perusahaan agar dapat bergerak lebih cepat serta tetap terhubung lebih erat dengan karyawan garis depan kami," tulis manajemen Home Depot dalam pernyataannya, seperti dikutip CNBC International, Kamis (29/1/2026).
CEO Home Depot Ted Decker menegaskan hal serupa dalam memo internal kepada karyawan. Menurutnya, kehadiran fisik di kantor menjadi kunci untuk memperkuat koordinasi dan budaya perusahaan.
"Untuk memperluas posisi terdepan kami di industri, kami harus memposisikan perusahaan untuk bergerak lebih cepat dan tetap terhubung lebih erat dengan pelanggan dan karyawan garis depan kami," tulis Decker.
Seorang juru bicara Home Depot mengonfirmasi bahwa dari total 800 posisi yang dipangkas. Sekitar 150 karyawan berbasis di kantor pusat Atlanta sementara sisanya merupakan pekerja jarak jauh, terutama di organisasi teknologi perusahaan dan beberapa tim korporat lainnya.
Home Depot menyatakan akan memberikan paket pesangon, tunjangan transisi, serta dukungan penempatan kerja bagi karyawan yang terdampak PHK. Sedangkan kebijakan kerja dari kantor lima hari ini akan mulai berlaku pada pekan 6 April mendatang.
"Keterlibatan langsung memungkinkan dukungan yang lebih bermakna bagi karyawan toko dan lapangan, mendorong hasil, serta memperkuat budaya yang berpusat pada manusia," kata Decker dalam memo tersebut.
Langkah efisiensi ini dilakukan di tengah melemahnya permintaan perbaikan rumah di AS. Perusahaan menilai tingginya suku bunga hipotek, ketidakpastian ekonomi, serta harga rumah yang masih mahal membuat konsumen menahan belanja proyek renovasi. Penurunan suku bunga dan kredit perumahan sejauh ini juga belum mampu mendorong pemulihan signifikan.
Dalam laporan keuangan terakhir, Home Depot memproyeksikan laba fiskal 2025 akan mengalami penurunan lebih besar. Meski demikian, perusahaan memperkirakan penjualan tahun fiskal 2025 masih dapat tumbuh sekitar 3%, dengan penjualan sebanding diperkirakan sedikit positif.
Saham Home Depot tercatat melemah sekitar 10% dalam setahun terakhir, tertinggal dari kinerja indeks S&P 500. Namun sejak awal tahun ini, saham perusahaan tersebut masih menguat sekitar 9%. Home Depot dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal IV fiskal pada 24 Februari mendatang.
(sef/sef)