MARKET DATA

Pantas Kekurangan! Pesawat di RI "Hilang" Setengah, Picu Masalah Ini

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
28 January 2026 17:05
Sejumlah pesawat dari berbagai maskapai penerbangan di pelataran pesawat Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (4/1/2018)
Foto: Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri penerbangan nasional masih menghadapi tantangan berat di tengah upaya pemulihan pascapandemi. Pelaku industri menilai tekanan biaya operasional yang tinggi menjadi faktor utama yang membatasi ruang gerak maskapai untuk menurunkan harga tiket, sekaligus menahan pertumbuhan permintaan penumpang.

"Secara jujur, kita menghadapi tantangan yang tidak ringan. Biaya operasional penerbangan yang cenderung tinggi sangat membatasi ruang bagi maskapai untuk menawarkan tarif yang lebih kompetitif," ujar Chairman Indonesia Aviation Association (IAA) Faik Fahmi dalam launching IAA di Hotel Mulia, Rabu (28/1/2026).

Ia menjelaskan, harga tiket yang relatif mahal tidak hanya berdampak pada pasar domestik, tetapi juga menahan laju pemulihan penerbangan internasional. Situasi ini diperparah oleh ketersediaan pesawat yang belum sepenuhnya pulih ke level sebelum pandemi.

Dalam periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) lalu, jumlah pesawat yang dioperasikan tercatat jauh lebih rendah dibandingkan kondisi normal beberapa tahun sebelumnya.

"Pada Nataru kemarin, hanya sekitar 368 pesawat yang dioperasikan. Padahal di tahun 2018, jumlahnya mencapai 740 pesawat untuk melayani seluruh wilayah Indonesia," katanya.

Kesenjangan antara permintaan dan pasokan armada tersebut membuat harga tiket sulit ditekan. Dengan kapasitas yang terbatas, maskapai juga belum mampu mengembalikan frekuensi penerbangan ke tingkat ideal, sehingga banyak rute belum berkembang optimal.

"Dengan supply yang masih terbatas, demand dan supply jadi tidak seimbang. Ini salah satu penyebab utama kenapa isu tiket mahal terus muncul," ujar Faik.

Dampaknya, konektivitas nasional masih terkonsentrasi di beberapa titik utama seperti Jakarta dan Bali, sementara daerah lain belum sepenuhnya menikmati pemulihan jaringan penerbangan.

Di luar persoalan domestik, industri aviasi juga dihadapkan pada tekanan global yang semakin kompleks. Mulai dari tuntutan efisiensi, peningkatan standar keselamatan, perubahan regulasi, hingga agenda keberlanjutan menuju net zero aviation.

"Semua ini saling terkait. Tantangan aviasi itu struktural dan tidak bisa diselesaikan secara parsial," ujarnya.

Padahal, bagi Indonesia, penerbangan memiliki peran yang jauh melampaui sekadar moda transportasi. Dengan lebih dari 17.000 pulau dan populasi di atas 280 juta jiwa, penerbangan menjadi penghubung utama aktivitas ekonomi dan pemerataan pembangunan.

"Ketika pesawat mendarat di daerah terpencil, yang datang bukan hanya penumpang, tapi juga harapan, peluang, dan masa depan," katanya.

Ia menilai secara alamiah Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi kekuatan aviasi di tingkat regional hingga global. Letak geografis yang strategis, pasar domestik yang luas, pertumbuhan logistik udara, serta daya tarik pariwisata menjadi kombinasi yang jarang dimiliki negara lain.

"Indonesia berada di persimpangan Asia Pasifik dan Australia. Asia Pasifik sendiri adalah pusat pertumbuhan penerbangan dunia, dan Indonesia ada tepat di jantungnya," jelas Faik.

Berbagai proyeksi internasional pun menempatkan Indonesia sebagai salah satu calon pasar penerbangan terbesar dunia dalam dua dekade ke depan. Namun menurutnya, tantangan utama bukan lagi soal potensi, melainkan kesiapan seluruh ekosistem industri untuk bergerak selaras.

"Pertanyaannya sekarang bukan apakah kita punya potensi, tapi apakah kita siap menyelaraskan langkah untuk mengubah potensi itu menjadi kekuatan nyata," pungkasnya.

Chairman Indonesia Aviation Association (IAA) Faik Fahmi dalam launching IAA di Hotel Mulia, Rabu (28/1/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)Foto: Chairman Indonesia Aviation Association (IAA) Faik Fahmi dalam launching IAA di Hotel Mulia, Rabu (28/1/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
Chairman Indonesia Aviation Association (IAA) Faik Fahmi dalam launching IAA di Hotel Mulia, Rabu (28/1/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

(dce)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Maskapai Raksasa Ini Mau PHK Ribuan Karyawan Demi Efisiensi


Most Popular
Features