Internasional

Israel Menggila, Komunitas Kristen Bersejarah Palestina Terancam Punah

Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
Selasa, 27/01/2026 20:10 WIB
Foto: Umat ​​Kristen Palestina menghadiri Misa di Gereja Keluarga Kudus setelah kematian Paus Fransiskus diumumkan oleh Vatikan, di Kota Gaza, 21 April 2025. (REUTERS/Dawoud Abu Alkas)

Jakarta, CNBC Indonesia - Keberadaan salah satu komunitas Kristen tertua dunia di Palestina kian terancam di tengah meningkatnya kekerasan dan tekanan dari kelompok pemukim Israel di wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Melansir Middle East Monitor, Selasa (27/1/2026), para pemimpin Kristen Palestina memperingatkan bahwa desa-desa dan kota-kota Kristen bersejarah menghadapi risiko lenyap akibat perebutan tanah, pembatasan akses, serta kekerasan yang terus berulang.

Salah satu wilayah yang disorot adalah Beit Jala, kota Kristen di sebelah barat Betlehem yang telah mempertahankan keberadaan umat Kristen secara berkelanjutan sejak abad ke-3.


Beit Jala saat ini dihuni sekitar 11.000 umat Kristen yang menelusuri akar mereka hingga komunitas berbahasa Aram. Selama berabad-abad, gereja, sekolah, dan rumah-rumah di kota tersebut menjadi bagian dari warisan Kristen di Tanah Suci. Namun kini, warga setempat melaporkan meningkatnya tekanan untuk meninggalkan tanah leluhur mereka.

"Beit Jala, sebuah kota Kristen Palestina dekat Betlehem yang dihuni sekitar 11.000 umat Kristen dengan akar komunitas berbahasa Aram, kini menghadapi gelombang emigrasi akibat perebutan tanah oleh pemukim dan ancaman terhadap keberadaan mereka," tulis sebuah media Katolik Palestina melalui akun X.

Menurut laporan warga, pemukim Israel merebut lahan di sekitar Beit Jala dan menghalangi akses ke kebun zaitun serta lahan pertanian. Kondisi ini diperparah dengan pembatasan pergerakan, pelecehan, hingga kekerasan fisik, yang berdampak pada meningkatnya kemiskinan dan arus migrasi keluar.

Peringatan terbaru muncul setelah serangan pemukim Israel di desa Birzeit, utara Ramallah, pada akhir pekan lalu. Uskup Dr. Imad Haddad dari Gereja Lutheran Injili di Yordania dan Tanah Suci menyebut seorang wanita Kristen Palestina berusia 62 tahun, Najat Emil Jadallah, mengalami luka kepala serius setelah diserang di properti pribadinya dan harus dirawat intensif di rumah sakit.

"Para pemukim menerobos masuk ke properti pribadi, menyerang seorang wanita dan keluarganya. Ini adalah pelanggaran berat terhadap hak-hak sipil," kata Haddad dalam pernyataan publiknya.

Ia menambahkan ketika keluarga korban mencoba menghentikan serangan, pasukan Israel justru menembakkan gas air mata dan menangkap tiga warga Palestina, sementara para pemukim tidak ditahan. Haddad juga mengungkapkan bahwa pohon-pohon di lahan milik keluarga yang terkait dengan komunitas gereja dicabut oleh pemukim.

"Kami berdiri dalam solidaritas doa bersama keluarga korban dan seluruh komunitas yang terdampak ketidakadilan serius ini," ujarnya, mendesak perlindungan internasional bagi warga sipil dan mengakhiri apa yang disebutnya sebagai budaya impunitas.

"Kami menyerukan pertanggungjawaban nyata bagi mereka yang melakukan dan memungkinkan kekerasan," tegas Haddad.

Secara historis, keberadaan Kristen di Palestina telah tercatat sejak awal Kekristenan. Pada abad ke-4, Eusebius dari Caesarea mendokumentasikan puluhan komunitas Kristen yang berkembang di wilayah Palestina, termasuk Beit Jala, Betlehem, dan Nazaret.

Namun, lebih dari 1.600 tahun kemudian, sejarawan Palestina Dr. Salman Abu Sitta mencatat banyak desa dan kota kuno tersebut telah menghilang setelah peristiwa Nakba 1948, ketika pembentukan Negara Israel menyebabkan pengusiran massal warga Palestina.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa komunitas Kristen dan Muslim Palestina mengalami nasib serupa, dengan rumah ibadah dan permukiman mereka dihancurkan atau ditinggalkan, lalu digantikan oleh kota-kota baru Israel. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa keberadaan Kristen Palestina, yang telah bertahan selama berabad-abad, kini berada di ambang kepunahan.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Israel Kembali "Bombardir" Lebanon, 2 Tewas & Puluhan Terluka