Emas Kerek Inflasi RI, Tito Bongkar Negara Ini Biang Keroknya
Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi nasional pada akhir 2025 tercatat di level 2,92% (year on year/yoy). Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan, kenaikan inflasi tersebut terutama dipicu lonjakan harga emas perhiasan yang terdampak dinamika geopolitik global, khususnya perang Rusia-Ukraina.
"Kita lihat (inflasi di Desember 2025 yoy) sudah di angka 2,92%. Meskipun kalau kita lihat itu pendorong utamanya harga emas perhiasan," kata Tito dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Selasa (27/1/2026).
Ia menjelaskan, lonjakan harga emas berakar dari perubahan strategi cadangan devisa sejumlah negara besar pasca perang Rusia-Ukraina. Sebelum konflik pecah, Rusia merupakan pemasok utama minyak dan gas ke Eropa dan menerima pembayaran dalam dolar AS.
"Kenapa harga emas perhiasan? sudah banyak saya baca juga literatur dan penelitian, serta pengamat.. Dunia, ini terutama dipicu oleh pada saat sebelum perang Rusia-Ukraina, itu Rusia menjadi pemasok atau supplier, penjual utama minyak dan gas ke negara-negara Eropa, dan kemudian negara-negara Eropa, Jerman, Polandia, dan lain-lain, membeli dalam bentuk uang dolar," jelasnya.
Namun, situasi berubah drastis ketika Barat membekukan simpanan dolar Rusia.
"Rusia kemudian menyimpan uang dolar itu di negara-negara Barat juga, yang waktu itu nggak ada masalah, di Inggris, di Swiss, di Amerika Serikat. Kemudian begitu terjadi perang Rusia dan Ukraina, Ukraina dibela oleh Barat, maka negara Barat melakukan freezing (pembekuan), dibekukan uang-uang dolarnya simpanan Rusia. Itu membuat Rusia merasa kesulitan," terang Tito.
Akibat pembekuan tersebut, Rusia beralih ke emas sebagai cadangan yang dianggap lebih aman. Langkah ini kemudian diikuti negara-negara lain yang memiliki tensi dengan Amerika Serikat (AS).
"Sehingga akhirnya mereka beralih kepada cari reserve yang lain, yang lebih aman, yaitu emas. Terjadilah pembelian besar-besaran emas oleh Rusia. Maka negara-negara yang ada masalah itu sama, mereka beralih reserve-nya dari dolar ke emas. Itu dilakukan oleh China, India, dan beberapa negara lainnya," ungkapnya.
Permintaan emas dunia pun melonjak tajam, bahkan China tak hanya membeli emas, tetapi juga tambang emas.
"Nah itu yang membuat harga emas meningkat tajam di tingkat dunia, dan itu dampaknya ke seluruh dunia, karena ini adalah komoditas global," ucap dia.
Tito menambahkan, harga emas saat ini sudah melonjak mendekati Rp3 juta per gram. "Melompat sangat naik," kata dia.
Kondisi tersebut memicu fenomena gold rush baru, yakni lonjakan pembelian emas, yang kemudian tercermin pada inflasi Indonesia.
Dari sisi bulanan (month to month/mtm), inflasi Desember 2025 tercatat 0,64%, naik dari 0,17% pada November. Tito menyebut, pendorong utamanya berasal dari kelompok makanan, minuman, transportasi, serta perawatan pribadi.
"Perawatan pribadi itu diantaranya emas. Kita lihat bulan ke bulan itu artinya bulan November ke Desember, naiknya 0,64%, sebelumnya 0,17%," katanya.
Dalam daftar komoditas penyumbang inflasi bulanan, emas perhiasan berada di posisi keempat setelah cabai, cabai rawit, daging ayam, dan bawang merah.
Sementara itu, kenaikan di sektor transportasi dipengaruhi momen Natal dan Tahun Baru. "Transportasi ini terutama didorong oleh kemarin pada waktu Natal dan Tahun Baru. Makanan, minuman pun pasti akan naik. Demand-nya naik, harga akan naik," jelas Tito.
Meski inflasi masih di bawah 3%, pemerintah tetap waspada. "Kita di angka 2,92% ini, kita berusaha untuk jangan sampai melewati 3%. Meskipun belum menyentuh 3,5%, tapi kita anggap sudah angka psikologi. 3% belum terlalu membuat masyarakat kesulitan. Tapi bagi kita yang mengendalikan, 3% itu sudah warning," tegasnya.
Menurut Tito, yang terpenting saat ini adalah membaca tren inflasi.
"Lebih baik selalu melihat tren. Itu jauh lebih penting, tren. Trennya naik atau turun. Kita lihat titiknya naik, naik, naik, sampai ke 2,92%. Artinya tren naik. Nah, ini kita harus hati-hati," pungkasnya.
(wur)