Hilirisasi Bauksit Buka 14.700 Lapangan Kerja Baru, Ini Buktinya!

Elga Nurmutia, CNBC Indonesia
Selasa, 27/01/2026 09:55 WIB
Foto: dok Istimewa

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan hilirisasi mineral nasional semakin menunjukkan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja baru. Dalam hal ini, pengembangan proyek pengolahan dan pemurnian bauksit di Tanah Air tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, melainkan juga memperluas serapan tenaga kerja, khususnya tenaga kerja formal dan terampil.

Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno pun turut mengapresiasi dampak positif hilirisasi terhadap penyerapan tenaga kerja. Menurutnya, hilirisasi sumber daya alam mineral merupakan instrumen strategis untuk mendorong penciptaan lapangan kerja berkualitas.

"Kami menyambut positif kebijakan hilirisasi karena dampaknya sangat konkret terhadap penciptaan lapangan kerja, terutama tenaga kerja formal yang terampil dan memiliki nilai tambah tinggi," ujar Eddy dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (27/1/2026).


Eddy bilang, terdapat salah satu proyek hilirisasi yang memberikan kontribusi signifikan terhadappembukaan lapangan kerja adalah pengembangan ekosistem pengolahan dan pemurnian bauksit-alumina-aluminium terintegrasi yang dijalankan oleh Grup MIND ID.

Berdasarkan dokumen Pra Feasibility Study (PFS) yang disusun oleh BPI Danantara bersama Satuan Tugas Hilirisasi, proyek strategis dengan total investasi sekitar Rp60 triliun ini diproyeksikan mampu menyerap hingga 14.700 tenaga kerja baru, baik pada fase konstruksi maupun operasional.

Lebih jauh, ia menilai investasi berskala besar tersebut berpotensi menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang luas terhadap ketenagakerjaan nasional. Tidak hanya menyerap tenaga kerja langsung di sektor industri, proyek ini juga akan mendorong tumbuhnya lapangan kerja di sektor-sektor pendukung.

"Investasi seperti ini akan menggerakkan ekosistem ekonomi di sekitarnya, mulai dari sektor logistik, jasa pendukung, hingga UMKM lokal," terang dia.

Dia melanjutkan, urgensi penciptaan lapangan kerja melalui hilirisasi semakin relevan lantaran kebutuhan aluminium nasional yang masih bergantung pada impor. Saat ini, kebutuhan aluminium domestik mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, dengan sekitar 54% masih dipenuhi dari luar negeri.

Di sisi lain, Indonesia memiliki modal sumber daya alam mineral bauksit yang sangat besar, dengan total sumber daya mencapai sekitar 7,78 miliar ton dan cadangan sekitar 2,86 miliar ton. Potensi ini dinilai menjadi basis penting untuk membangun industri aluminium nasional yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

Kendati begitu, Eddy menegaskan, hilirisasi harus terus didorong hingga ke tahap industrialisasi produk turunan dan barang jadi. Pada akhirnya, manfaat penciptaan lapangan kerja akan semakin optimal dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Ketika pemrosesan dan industrialisasi dilakukan di dalam negeri, lapangan kerja tercipta, nilai tambah tinggal di Indonesia, dan manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh tenaga kerja dan masyarakat yang lebih luas," tandas dia.


(dpu/dpu)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Realisasi Investasi 2025 Tembus Rp1.931,2 T