Update Terkini Tragedi Kapal Feri Tenggelam, Korban Tewas Bertambah
Jakarta, CNBC Indonesia - Korban tewas yang telah dikonfirmasi dalam tragedi tenggelamnya kapal feri di perairan selatan Filipina pada Senin (26/1/2026) telah mencapai 18 orang, sementara 10 lainnya masih hilang.
Penjaga Pantai Filipina (Philippine Coast Guard/PCG) menyatakan kapal tersebut membawa lebih dari 340 orang saat insiden terjadi. Upaya pencarian dan penyelamatan diperkirakan akan terus berlanjut hingga malam hari, sebagaimana disampaikan juru bicara PCG, Noemie Cayabyab, kepada AFP.
Cayabyab menjelaskan, jumlah penumpang awal yang tercatat sempat direvisi menjadi 344 orang setelah diketahui bahwa beberapa nama dalam manifes kapal ternyata tidak ikut naik. "Kami masih terus melakukan pencarian dan evakuasi," kata Cayabyab.
Kapal feri bernama MV Trisha Kerstin 3 mengirimkan sinyal darurat sekitar pukul 01.50 dini hari, atau sekitar empat jam lebih setelah bertolak dari Pelabuhan Zamboanga City di ujung barat daya Pulau Mindanao. Informasi tersebut disampaikan PCG dalam pernyataan resminya.
Rekaman video yang dirilis Gubernur Provinsi Basilan memperlihatkan suasana dramatis pasca-kejadian. Para penyintas tampak tanpa alas kaki, dibungkus selimut, dan diletakkan di atas tandu. Sementara itu, sejumlah korban tewas terlihat dibawa melewati lokasi dalam kantong jenazah.
Kapal tiga dek itu tenggelam di rute yang hampir sama dengan lokasi kecelakaan fatal pada 2023, ketika 31 orang meninggal akibat kebakaran di atas feri Lady Mary Joy 3. Kedua kapal tersebut sama-sama dimiliki oleh perusahaan pelayaran lokal, Aleson Shipping Lines.
Salah satu petugas penyelamat di Isabela City, Sheryl Balondo, mengatakan kantornya kewalahan menerima telepon dari keluarga penumpang yang cemas. Isabela City merupakan salah satu dari dua wilayah tempat para penyintas dibawa.
"Selalu ada tarikan di hati kami setiap kali mengangkat telepon. Suara mereka terdengar sangat khawatir," ujar Balondo. "Yang bisa kami sampaikan sekarang hanyalah bahwa kami belum memiliki daftar nama final, karena operasi pencarian dan evakuasi masih berlangsung."
PCG menyebut feri sepanjang 44 meter itu tenggelam sekitar lima kilometer di sebelah timur Pulau Baluk-Baluk, yang merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Basilan di lepas Semenanjung Zamboanga.
Dalam wawancara televisi, Cayabyab mengatakan kondisi laut saat kejadian dilaporkan cukup buruk. "Berdasarkan keterangan beberapa penyintas, perairan di lokasi saat itu cukup bergelombang," ujarnya.
Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh setidaknya dua penumpang yang selamat. Mereka menyebut kondisi laut sebenarnya relatif tenang ketika kapal mulai miring dan akhirnya terbalik.
"Saya harap ini diselidiki, karena kami tidak menghadapi cuaca buruk. Mengapa kapal bisa tenggelam padahal tidak ada badai?" kata Jun Guro, seorang pengacara yang selamat dari insiden tersebut. Wawancaranya diunggah oleh pemerintah Kota Isabela di Basilan.
Beberapa saat sebelum kapal benar-benar tenggelam, seorang penumpang bernama Kyle Punsalang, lulusan baru akademi maritim, sempat mengirim pesan singkat kepada kakaknya. Pesan itu kemudian dibagikan sang kakak di Facebook.
"Kapal kami terbalik," tulis Punsalang. "Tolong kami."
Di lapangan, para petugas juga menghadapi keterbatasan sumber daya. Petugas tanggap darurat Basilan, Ronalyn Perez, mengatakan kepada AFP bahwa tim medis dan penyelamat kesulitan menangani banyaknya korban yang datang dalam waktu bersamaan.
"Tantangan utama adalah jumlah pasien yang masuk. Saat ini kami kekurangan staf," ujar Perez, seraya menambahkan bahwa sedikitnya 18 korban telah dibawa ke salah satu rumah sakit setempat.
Video yang dirilis PCG memperlihatkan sejumlah penyintas diangkat langsung dari laut dan mendapat perawatan medis darurat. Dalam siaran langsung di Facebook, beberapa korban bahkan terdengar berteriak meminta pertolongan di tengah gelapnya malam.
Komandan Penjaga Pantai untuk wilayah Mindanao selatan, Romel Dua, mengatakan pihaknya belum bisa memastikan penyebab tenggelamnya kapal.
"Kami belum bisa menyimpulkan alasan tenggelamnya kapal, tetapi kami telah diperintahkan untuk melakukan investigasi kecelakaan laut guna menentukan penyebabnya," kata Dua kepada AFP.
Dalam pernyataannya, PCG menegaskan bahwa kapal tersebut tidak dalam kondisi kelebihan muatan.
Sementara itu, pihak Aleson Shipping Lines menyampaikan belasungkawa dan menyatakan sedang bekerja sama penuh dengan otoritas.
"Pikiran dan hati kami bersama semua orang yang berada di atas kapal," kata perusahaan tersebut dalam pernyataannya. Mereka juga menambahkan sedang "bekerja tanpa lelah" berkoordinasi dengan penjaga pantai.
Regulator industri maritim Filipina, Maritime Industry Authority (MARINA), juga mengumumkan telah mengirim tim investigasi.
"Kami telah mengerahkan tim penyelidikan untuk menentukan penyebab yang paling mungkin atau faktor-faktor yang berkontribusi terhadap insiden ini," kata MARINA dalam pernyataan terpisah.
Â
(luc/luc)[Gambas:Video CNBC]