MARKET DATA

Sulap Sampah Jadi Listrik Bisa Suplai 200 Mega Watt

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
26 January 2026 19:35
Foto udara gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat, Jumat (5/11/2021).  Lokasi ini merupakan tempat pemilahan sampah organik dan anorganik, di komplek TPA terbesar di Nusa Tenggara Barat NTB. Dari sini, proses pengolahan sampah menjadi pelet RDF (Refuse Derived Fuel) dibuat, yang merupakan pengganti bahan bakar batubara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang, Lombok Barat. Sampah diproses di mesin pencacah ukuran 5-8 mm untuk berikutnya dimasukkan ke mesin pengepresan menjadi pelet RDF. Pelet akan dikeringkan di bawah sinar matahari sebelum dikirim ke PLTU Jeranjang. Di pembangkit listrik itu pelet dibakar melalui sistem co-firing.
Setiap hari, sekitar 300 ton sampah dari Kota Mataram dan Lombok Barat diantar ke TPA ini. Namun, menurut jumlah yang diolah menjadi pellet baru 100 hingga 200 kilogram. 
Kementerian PUPR memfasilitasi lahan seluas 40 are (4 ribu meter persegi) di sekitar TPA. Di bangunan tersebut, semua fasilitas yang dibutuhkan untuk pengolahan sampah menjadi pellet disediakan. 
Penelitian masih dilakukan agar sampah non-organik bisa lebih banyak diolah. Saat ini, komposisi pelet terdiri 95 persen sampah organik dan 5 persen anorganik. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Foto: Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengungkapkan bahwa proyek 'sulap' sampah jadi energi listrik (waste to energy/WTE) bisa menghasilkan listrik dengan kapasitas 200 Mega Watt (MW).

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengatakan meski bisa menghasilkan listrik hingga 200 MW, angka tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan total kapasitas jaringan listrik nasional milik PLN. Namun dia menilai proyek WTE krusial jika dilihat dari aspek penyelesaian masalah lingkungan.

"Waste to Energy ini paling banyak akan menyuplai listrik dengan jumlah hanya sekitar 200 MW, sehingga dengan demikian maka tidak terlalu besar pada kapasitas on-grid PLN," ujar Hanif dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, Senin (26/1/2026).

Hal itu sejalan dengan tujuan utama pembangunan fasilitas WTE bukan untuk mengejar target produksi energi, melainkan sebagai solusi atas masalah tumpukan sampah yang semakin menggunung.

Oleh karena itu, penanganan proyek tersebut sepenuhnya difokuskan pada aspek teknologi pengolahan sampah yang efektif sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto.

"Sehingga arahan Bapak Presiden, ini bukan masalah energi, ini masalah lingkungan, sehingga pelaksanaannya ditangani penuh di dalam Waste to Energy," tambahnya.

Terkait keekonomian, pemerintah telah menetapkan tarif jual beli listrik yang berlaku flat sebesar 20 sen per KWh. Untuk harga tersebut, terdapat dengan syarat volume sampah yang dikelola memenuhi ambang batas minimal 1.000 ton per hari.

"Kemudian penanganannya memang dengan alokasi dana yang ditetapkan flat yaitu 20 sen dolar per kWh. Bahwa ini hanya memang diperuntukkan untuk 1.000 ton per hari," tandasnya.

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Siap-Siap! Aturan Sampah Jadi Listrik Bakal Terbit


Most Popular
Features