MARKET DATA
Internasional

Duh! Ramai-Ramai Perusahaan Thailand Default, Tertinggi dalam 25 Tahun

sef,  CNBC Indonesia
26 January 2026 21:40
bendera thailand
Foto: Thailand (Reuters)

Jakarta, CNBC Indonesia- Tekanan pada kredit di sektor korporasi Thailand kian menguat sepanjang 2025. Lembaga pemeringkat kredit TRIS Rating mencatat tingkat gagal bayar (default) dan penundaan pembayaran utang (debt deferral) perusahaan Gajah Putih melonjak ke 5,8%, tertinggi dalam 25 tahun terakhir sejak 2000.

Dalam laporan bertajuk "2025 Default Statistics and Rating Transition Rates in Thailand", TRIS menyebut lonjakan ini menjadi sinyal jelas rapuhnya kondisi kredit korporasi, terutama di tengah pemulihan ekonomi yang lambat dan biaya pendanaan yang masih ketat.

Bahkan, pada sejumlah sektor utama seperti utilitas yang diregulasi, pengembang properti, serta konstruksi dan rekayasa, jumlah kasus gagal bayar dan penundaan pembayaran tercatat lebih tinggi dibandingkan masa Krisis Keuangan Asia 1997.

Mengutip Nation Thailand, Senin (26/1/2026), sepanjang 2025 tercatat 12 emiten obligasi mengalami masalah pembayaran. Terdiri dari enam kasus gagal bayar dan enam penundaan pembayaran.

Angka ini meningkat dari delapan emiten pada 2024. Akibatnya, tingkat default tahunan melonjak menjadi 2,9%, dari hanya 0,9% pada 2024. Sementara itu, tingkat gabungan default dan deferral naik tajam dari 2,9% menjadi 5,8%, mencerminkan tekanan kredit yang kembali meningkat signifikan.

"Ini merupakan level tertinggi sejak tahun 2000," tulis laporan TRIS.

Meski jumlah kasus di beberapa sektor melampaui periode krisis 1997, TRIS menilai kondisi saat ini tidak separah krisis sistemik kala itu. Perbedaan utamanya terletak pada struktur risiko.

Krisis 1997 dipicu oleh guncangan nilai tukar, utang valuta asing, serta kolaps-nya lembaga keuangan. Sementara saat ini, tekanan kredit bersifat bertahap dan terkonsentrasi, terutama pada bisnis padat modal yang sangat bergantung pada permintaan domestik.

TRIS menekankan bahwa gelombang gagal bayar dan penundaan pembayaran tidak merata di seluruh sektor. Namun, yang menjadi perhatian serius adalah gagal bayar di 2025 tidak hanya terjadi pada perusahaan berperingkat rendah.

TRIS mencatat dua emiten yang sebelumnya berstatus investment grade (BBB-) pada awal 2024 akhirnya jatuh ke kondisi gagal bayar setelah profil kreditnya memburuk. Hal ini mengindikasikan tekanan kredit mulai merembet ke perusahaan yang sebelumnya dianggap relatif aman, menjadi peringatan bagi stabilitas kredit korporasi secara lebih luas.

Sementara itu, melihat tren jangka panjang periode 1994-2025, jumlah kumulatif emiten gagal bayar meningkat menjadi 34, sementara jika termasuk deferral (konsep yang mengacu pada pendapatan atau biaya yang telah diterima atau dibayarkan, tetapi belum diakui sebagai pendapatan atau biaya dalam laporan keuangan) mencapai 51 emiten. Rata-rata tingkat gagal bayar kumulatif tiga tahunan pun naik menjadi 3,11%, dan 4,62% jika digabung dengan deferral.

TRIS menilai tekanan kredit ini bukan kejadian sesaat. Melainkan akumulasi tekanan struktural yang telah terbentuk selama beberapa tahun.

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bangkok Ngeri! Lubang Raksasa 50 M Muncul di Jalan, Telan Mobil


Most Popular
Features