MARKET DATA
WEF ANNUAL MEETING 2026

RI Tegaskan Posisi Sebagai Tujuan Investasi Berkelanjutan di WEF 2026

Elga Nurmutia,  CNBC Indonesia
26 January 2026 14:33
WEF ANNUAL MEETING 2026 (dok Istimewa)
Foto: WEF ANNUAL MEETING 2026 (dok Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan berkelanjutan global dan pergeseran arus modal ke emerging markets, Indonesia menegaskan posisinya sebagai tujuan investasi berkelanjutan melalui panel diskusi "Capital for Sustainability: Unlocking Sustainable Finance and Growth in Emerging Markets". Diskusi tersebut digelar di Indonesia Pavilion, Davos, Swis dalam rangkaian World Economic Forum (WEF) 2026 pada Selasa (20/1).

Panel ini menggarisbawahi bahwa tantangan keberlanjutan di negara berkembang tidak berhenti pada komitmen kebijakan, melainkan pada bagaimana pembiayaan dapat menjangkau sektor riil secara efektif dan inklusif. Dalam konteks ini, Group CEO PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Hery Gunardi menekankan pentingnya kemampuan eksekusi dalam mendorong dampak nyata di tingkat ekonomi akar rumput.

"Ketika kita berbicara tentang keberlanjutan di pasar negara berkembang, pertanyaannya bukan soal ambisi melainkan tentang eksekusi. Tantangannya adalah bagaimana modal dapat disalurkan secara aman, efisien, dan dalam skala besar ke sektor yang paling membutuhkan," ujar Hery dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (26/1/2026).

Di samping itu, Hery bilang, transisi hijau dan pertumbuhan inklusif tidak dapat terwujud tanpa keterlibatan pelaku usaha mikro dan kecil. Dengan jaringan lebih dari 7.500 kantor cabang dan basis nasabah mencapai 129 juta, BRI memposisikan keberlanjutan sebagai bagian integral dari strategi pembiayaan sehari-hari bagi jutaan pelaku usaha.

"Namun, modal saja tidak cukup, kita membutuhkan kemampuan eksekusi. BRI berperan sebagai bank utama yang bermitra dengan pemerintah, lembaga pembiayaan untuk pembangunan, dan bank multilateral untuk menyalurkan berbagai pembiayaan kepada UKM," terang dia.

Sementara itu, Chief Financial Officer PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Novita Widya Anggraini memberikan konteks tambahan bahwa pembiayaan berkelanjutan menuntut pengelolaan risiko yang cermat dan pendekatan kolaboratif.

"Hambatan utama dalam pembiayaan proyek adalah durasi analisis dampak finansial; sebagai bank, kami harus memastikan analisis berbasis risiko dilakukan secara menyeluruh jika bergerak sendiri. Maka dari itu, kemitraan menjadi sangat penting karena proyek berkelanjutan membutuhkan waktu ekstra untuk dievaluasi dampaknya," ungkap Novita.

Dengan total aset sekitar US$ 150 miliar, Bank Mandiri memandang kemitraan strategis sebagai faktor penting untuk memastikan proyek berkelanjutan dapat dibiayai secara prudent, mengingat karakteristik dampak dan jangka waktu yang tidak selalu bersifat jangka pendek.

Keterpaduan antara pembiayaan inklusif dan kehati-hatian korporasi tersebut menjadi fondasi dalam membangun kepercayaan investor global. Dari perspektif internasional, President and Chief Executive Officer TCW Katie Koch menilai pasar negara berkembang berada pada titik strategis dalam pergeseran arus modal global. Indonesia dipandang memiliki potensi signifikan untuk memimpin pengembangan energi terbarukan, mulai dari tenaga surya, air, panas bumi, hingga bioenergi, sebagai penopang pertumbuhan industri digital dan teknologi masa depan.

Dalam sesi panel ini, diskusi menunjukkan bahwa investasi berkelanjutan memerlukan ekosistem yang saling terhubung, mulai dari akses pembiayaan yang inklusif, struktur pembiayaan yang pruden, hingga kepercayaan investor terhadap stabilitas dan arah kebijakan nasional.

(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pengamat Ungkap Dampak Positif Adanya Patriot Bond, Ini Salah Satunya!


Most Popular
Features