Cuaca Ekstrem Makan 61 Korban Jiwa dalam 3 Hari di Sini, Situasi Chaos
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan salju tebal yang melanda Afghanistan dalam tiga hari terakhir telah menewaskan lebih dari 60 orang dan melukai ratusan lainnya, di tengah upaya otoritas setempat yang masih kesulitan menjangkau wilayah-wilayah terpencil yang terisolasi akibat kerusakan infrastruktur.
Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional Afghanistan melaporkan bahwa sedikitnya 61 orang meninggal dunia dan 110 orang lainnya mengalami luka-luka akibat bencana tersebut. Selain korban jiwa, ratusan rumah warga hancur dan ribuan hewan ternak dilaporkan mati.
Juru bicara Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional, Yousaf Hammad, mengatakan cuaca buruk telah berdampak di 15 dari total 34 provinsi di Afghanistan.
"Sebanyak 61 orang telah meninggal dan 110 orang terluka, sementara 458 rumah hancur total atau sebagian, dan ratusan hewan ternak mati," kata Hammad, dilansir The Associated Press, Minggu (25/1/2026).
Ia menambahkan jumlah korban masih bisa berubah seiring masuknya laporan lanjutan dari berbagai daerah.
Bencana ini memperparah kondisi Afghanistan yang memang sangat rentan terhadap kejadian cuaca ekstrem. Salju tebal dan hujan deras kerap memicu banjir bandang yang dalam banyak kasus menelan puluhan hingga ratusan korban jiwa.
Pada 2024 lalu, lebih dari 300 orang dilaporkan meninggal dunia akibat banjir bandang yang terjadi pada musim semi.
Dampak bencana makin berat karena Afghanistan masih dibebani konflik berkepanjangan, infrastruktur yang buruk, kondisi ekonomi yang rapuh, deforestasi, serta dampak perubahan iklim yang semakin intens.
Situasi tersebut membuat banyak komunitas, terutama di daerah terpencil, tidak memiliki perlindungan memadai dari cuaca ekstrem. Banyak rumah warga dibangun dari tanah liat, yang sangat rentan rusak ketika diterjang hujan lebat atau tertimbun salju.
Di bagian timur negara itu, sejumlah provinsi juga masih berjuang pulih dari gempa bumi besar yang terjadi tahun lalu, pada akhir Agustus dan kembali mengguncang pada November. Gempa tersebut menghancurkan banyak desa dan menewaskan lebih dari 2.200 orang.
Warga yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa kini menjadi kelompok paling rentan menghadapi cuaca dingin ekstrem. Pada Desember lalu, UNICEF menyatakan sekitar 270.000 anak-anak di wilayah terdampak gempa berada dalam kondisi "sangat berisiko terkena penyakit yang mengancam jiwa akibat cuaca dingin".
Krisis kemanusiaan di Afghanistan juga diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Awal bulan ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan Afghanistan akan "tetap menjadi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia pada 2026".
Untuk merespons situasi tersebut, PBB bersama mitra kemanusiaannya meluncurkan permohonan dana sebesar US$1,7 miliar guna membantu hampir 18 juta orang yang saat ini membutuhkan bantuan mendesak di seluruh Afghanistan.
(luc/luc)