Rombongan Investor Rusia Masuk RI, Begini Peta Sektor-Wilayah Incaran

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Jumat, 23/01/2026 20:10 WIB
Foto: Bendera Rusia (File Photo Reuters)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia, Indonesia justru tampil sebagai salah satu tujuan investasi yang semakin dilirik. Bukan hanya dari Asia Timur dan Eropa Barat, kini minat juga datang dari Rusia.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengungkapkan, Indonesia masuk dalam radar investasi kawasan Asia Pasifik berdasarkan sejumlah publikasi riset properti dan industri.

"Kalau merujuk Asia Pasifik Property Outlook 2026, khususnya pada dimensi logistik dan industrial, Indonesia termasuk negara yang masuk radar investasi para investor," kata Syarifah.


Ia menambahkan, posisi Indonesia di kawasan sejajar dengan Malaysia, Thailand, serta India untuk sektor sci-tech industry. Dalam konteks ini, Rusia mulai memosisikan diri sebagai salah satu investor yang membidik Indonesia sebagai basis kolaborasi baru. Ketertarikan Rusia terhadap Indonesia bukan tanpa alasan. Struktur ekonomi dan demografi Indonesia menjadi daya tarik utama.

"Kita ini emerging market dengan 280 juta penduduk, dan porsi terbesarnya usia produktif atau demographic dividend. Itu artinya tingkat belanja tinggi dan pasarnya sangat potensial," jelasnya.

Soal sektor yang dibidik Rusia, Syarifah menyebut investasi tidak hanya terkonsentrasi pada satu bidang, melainkan tersebar pada beberapa sektor strategis.

"Secara umum, keunggulan yang dicari industri Rusia untuk berkolaborasi di Indonesia itu antara lain sektor kimia, healthcare, dan di sektor properti ada hospitality," ujarnya.

Tak hanya soal sektor, lokasi investasi juga menjadi perhatian utama. Pulau Jawa, menurut Syarifah, masih menjadi pusat gravitasi pengembangan industri di Indonesia.

"Untuk industri, fokusnya masih di Pulau Jawa. Tapi sebarannya tergantung spesifikasi industrinya," katanya.

Ia menjelaskan, untuk industri berteknologi tinggi, investor cenderung mengincar wilayah koridor timur Jawa yang sudah dikenal sebagai pusat manufaktur modern.

"High technology itu mostly di eastern corridor, seperti Cikarang, Bekasi, Karawang. Di sana ada elektronik, data center, otomotif secara umum," ungkap Syarifah.

Seiring waktu, kawasan ini juga mulai meluas hingga Subang, seiring masuknya industri kendaraan listrik dan otomotif turunan lainnya.

"EV itu sudah mulai extend sampai Subang. Jadi mereka akan hadir mengikuti spesifikasi industrinya," tambahnya.

Sementara itu, koridor barat Jawa memiliki karakter berbeda. Wilayah ini dinilai lebih cocok untuk industri berbasis material dasar dan konsumsi.

"Kalau di western corridor, mostly steel-based, chemical, FMCG, dan F&B," ujar Syarifah.

Di sisi timur Pulau Jawa, peluang investasi juga kian terbuka, terutama di kawasan Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. Kawasan ini mulai berkembang tidak hanya untuk industri konsumsi, tetapi juga sektor kesehatan dan farmasi.

"Di timur itu mulai berkembang healthcare, farmasi, apotekeri. Selain FMCG dan F&B," katanya.

Ia juga menyoroti Gresik sebagai salah satu contoh kawasan berbasis sumber daya yang kini berkembang pesat dan menarik minat perusahaan multinasional.

"Gresik itu resource-based dan sudah ada MNC besar yang berkembang di sana," jelasnya.

Pada akhirnya investor akan selalu melihat spesialisasi masing-masing sub-market kawasan industri sebelum memutuskan masuk.

"Mereka akan melihat spesialisasi dari setiap sub-market kawasan industri, lalu masuk di situ. Dan sejauh ini, Pulau Jawa masih menjadi lokasi paling menonjol untuk pengembangan industri," ujarnya.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Akhmad Ma'ruf Maulana menyebut Indonesia disebut mulai dilirik sebagai tujuan baru investasi manufaktur dan industri strategis. Arus masuk ini menyasar kawasan industri di Pulau Jawa maupun luar Jawa.

"Ada, ini Rusia kita masuk. Kita dapat Rusia masuk 10 perusahaan. Masuk ke kawasan industri di Jawa sama di luar Jawa," kata Ma'ruf.


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video:Putin Buka Opsi Kirim Aset Beku Rusia ke Dewan Perdamaian