RI Jadi Raja Lapangan Padel di ASEAN, Paling Banyak Ada di Kota Ini

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Jumat, 23/01/2026 18:35 WIB
Foto: Warga bermain padel yaitu olahraga yang memadukan elemen tenis dan squash di Padel Arena Jakarta, Jakarta, Kamis (03/7/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Olahraga padel tak lagi sekadar alternatif bagi pencinta raket. Di kota-kota besar Indonesia, padel menjelma menjadi simbol gaya hidup urban yang kian menguat, seiring pesatnya pertumbuhan lapangan dan komunitasnya.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, menyebut padel saat ini sudah melebur dengan karakter masyarakat perkotaan yang lekat dengan citra diri dan aktivitas sosial.

"Padel ini bukan hanya sport semata, tapi sudah menjadi bagian dari lifestyle urban. Orang-orang di kota punya self-branding sendiri dan padel menjadi bagian dari etalase aktivitas mereka," ujarnya saat diskusi media di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2026).


Perkembangan padel di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari dinamika kota-kota besar. Jakarta disebut menjadi barometer utama, namun bukan satu-satunya motor pertumbuhan.

"Bali justru lebih dulu mengalami pertumbuhan padel. Setelah itu Jakarta, lalu merembet ke Bandung dan Medan. Secara umum, kota-kota metropolitan akan menjadi pusat menjamurnya lapangan padel," katanya.

Tak hanya dari sisi sebaran, Indonesia juga mencatatkan angka pertumbuhan yang mencolok di kawasan regional. Syarifah mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan lapangan padel tertinggi di Asia Tenggara.

Foto: Warga bermain padel yaitu olahraga yang memadukan elemen tenis dan squash di Padel Arena Jakarta, Jakarta, Kamis (03/7/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Warga bermain padel yaitu olahraga yang memadukan elemen tenis dan squash di Padel Arena Jakarta, Jakarta, Kamis (03/7/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

"Sekitar 51% pertumbuhan lapangan padel di Asia Tenggara ada di Indonesia. Dan sekitar 40%-nya terkonsentrasi di Jakarta," jelasnya.

Meski berkembang pesat, Syarifah menilai pasar padel di Indonesia masih jauh dari titik jenuh. Ia membandingkan dengan negara-negara yang lebih matang seperti Swedia dan Chili.

"Di Swedia dan Chili, rasionya sekitar satu lapangan untuk 15.000 penduduk. Kita masih jauh dari angka itu, jadi peluang tumbuhnya masih sangat besar," ujarnya.

Menariknya, pertumbuhan padel terjadi di tengah isu melemahnya daya beli masyarakat. Namun, menurut Syarifah, ada faktor budaya yang membuat padel relatif tahan terhadap tekanan tersebut.

"Kita ini sangat familiar dengan olahraga berbasis raket, seperti badminton dan tenis. Dulu main di depan rumah atau di jalan, sekarang kembali lagi lewat padel," katanya.

Selain faktor kedekatan budaya, inklusivitas menjadi kekuatan lain dari padel. Olahraga ini dinilai tidak eksklusif dan dapat menjangkau berbagai segmen usia dan latar belakang.

"Kalau golf mungkin hanya segmen tertentu, tapi padel bisa dimainkan mahasiswa sampai pekerja senior. Rentang umurnya luas, dari 18 tahun sampai usia matang pun masih bisa," jelas Syarifah.

Dari sisi biaya, padel juga relatif lebih terjangkau bagi kelas menengah dibandingkan sejumlah olahraga premium lainnya. Hal ini membuatnya semakin mudah diterima oleh pasar urban.

Tak hanya bermain, padel kini juga identik dengan aktivitas sosial dan eksistensi digital. Mulai dari konten media sosial, turnamen komunitas, hingga kolaborasi dengan videografer menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistemnya.

"Padel punya resonansi karena bukan sekadar olahraga. Ada lifestyle-nya. Main sambil foto-foto, bikin video, ikut turnamen, semua itu membangun komunitas," tuturnya.

Dengan berbagai faktor tersebut, Syarifah optimistis tren padel masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

"Kalau kita lihat sejak booming 2023 sampai 2025, pertumbuhannya luar biasa. Saya rasa di 2026 ini masih akan growing," pungkasnya.


(fys/wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Warga RI Liburan ke Bali Menurun, Bos Hotel Ungkap Sebabnya