AS Siaga Malapetaka, 150 Juta Warga Terancam
Jakarta, CNBC Indonesia - Badai musim dingin besar diperkirakan melanda wilayah tengah hingga timur Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan ini. Badan Layanan Cuaca Nasional (National Weather Service/NWS) memperingatkan, gangguan perjalanan, pemadaman listrik, serta suhu beku ekstrem berpotensi mempengaruhi sekitar 150 juta warga AS mulai Jumat hingga akhir pekan.
Badai tersebut diperkirakan membawa salju lebat dan hujan beku dari Dataran Tengah hingga Pantai Timur, mencakup hampir setengah populasi negara tersebut. Pegunungan Appalachian dan Virginia Barat berpotensi menerima salju hingga 20 inci atau sekitar 50 sentimeter. Sementara itu, sebagian besar wilayah timur AS menghadapi risiko jalan licin dan pemadaman listrik akibat pohon yang tertutup es tumbang dan merusak jaringan listrik.
"Dengan cuaca dingin ekstrem di utara dan badai musim dingin ini, hampir setengah dari seluruh warga Amerika berada di bawah berbagai peringatan cuaca," kata ahli meteorologi Pusat Prediksi Cuaca NWS, Brian Hurley, di College Park, Maryland, seperti dikutip Reuters, Jumat (23/1/2026).
Di sektor pertanian, para ahli menyebut salju dan es tebal dapat memberi manfaat bagi tanaman gandum musim dingin yang tengah dorman di Oklahoma. Hal ini terjadi di tengah kondisi 23% wilayah negara bagian tersebut yang masih mengalami kekeringan parah, berdasarkan laporan mingguan U.S. Drought Monitor.
Namun, Departemen Pertanian AS (USDA) mengingatkan penurunan suhu setelah badai dapat membahayakan ladang gandum yang tidak memiliki lapisan salju pelindung.
"Ladang gandum tanpa pelindung salju berisiko mengalami kerusakan akibat cuaca dingin," tulis USDA dalam catatan cuaca hariannya. Selain itu, kondisi es dan salju juga dinilai akan menekan kesehatan ternak, terutama di Dataran Selatan dan wilayah utara yang menghadapi suhu ekstrem.
Beberapa kota besar seperti New York, Boston, Baltimore, dan Washington, D.C. diperkirakan menerima salju basah setebal 4 hingga 10 inci (10-25 cm) mulai Sabtu. Suhu di Washington, D.C. diperkirakan turun di bawah 20 derajat Fahrenheit (sekitar minus 5,5 derajat Celsius), sementara Boston bisa mencatat suhu terendah 7 derajat Fahrenheit (minus 14 derajat Celsius).
Persiapan Lokal Ditingkatkan
Pemerintah daerah mulai mengambil langkah antisipasi. Negara bagian New York diperkirakan menerapkan "Kode Biru" selama badai, yang mewajibkan layanan sosial memperpanjang jam operasional tempat penampungan dan memastikan akses bagi tunawisma.
Di Boston, pelaku usaha tetap bersiap beroperasi meski cuaca ekstrem. "Ini memang sulit, tetapi saya punya pemanas ruangan dan tentu saja oven waffle untuk menghangatkan," ujar Anh-Phi Tran, pemilik truk makanan waffle Belgia Zinneken's, yang telah beroperasi sekitar 11 tahun.
Chicago diperkirakan mengalami suhu sangat dingin, dengan suhu terendah mencapai minus 2 derajat Fahrenheit dan angin dingin berbahaya hingga minus 30 derajat Fahrenheit (sekitar minus 34 derajat Celsius). Permintaan pemanas ruangan melonjak tajam.
"Warga Chicago tahu cara menghadapi dingin ekstrem. Kita bergerak cepat dan mengenakan pakaian berlapis-lapis," kata James Martin, manajer J.C. Licht Ace Hardware River North.
Di Texas, Gubernur Greg Abbott telah menetapkan status darurat. Pemerintah negara bagian mengaktifkan personel dan peralatan tambahan untuk pengaturan lalu lintas, pemantauan pemadaman listrik, serta operasi penyelamatan. Abbott mengimbau warga untuk terus memantau kondisi cuaca dan mengikuti arahan otoritas setempat.
Badai diperkirakan mulai mereda pada Minggu malam atau Senin pagi. Namun, hembusan udara Arktik dari Kanada diprediksi membawa suhu ekstrem lanjutan, dengan suhu tertinggi di Fargo, North Dakota, hanya sekitar minus 5 derajat Fahrenheit pada Sabtu.
Di wilayah selatan, ancaman utama justru berupa lapisan es, dengan akumulasi hingga setengah inci dari Virginia Tengah hingga Texas Utara.
(tfa/luc)