MARKET DATA
Internasional

Kejutan Besar! Shell Berencana Lepas Aset "Primadona" di Sini

luc,  CNBC Indonesia
23 January 2026 09:30
FILE PHOTO: A passenger plane flies over a Shell logo at a petrol station in west London,  January 29, 2015. REUTERS/Toby Melville
Foto: REUTERS/Toby Melville

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa energi Shell tengah mengkaji kemungkinan melepas sebagian atau seluruh asetnya di ladang serpih Vaca Muerta, Argentina. Ini menjadi sebuah langkah yang berpotensi menjadi salah satu transaksi terbesar di sektor energi Amerika Latin dalam beberapa tahun terakhir.

Tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan kepada Reuters, dilansir Jumat (23/1/2026), bahwa Shell telah mendekati sejumlah calon pembeli dalam beberapa pekan terakhir untuk mengukur minat terhadap aset-asetnya di Vaca Muerta, yang merupakan salah satu wilayah minyak dan gas nonkonvensional paling prospektif di dunia.

Menurut dua dari tiga sumber itu, Shell terbuka untuk menjual sebagian maupun seluruh kepemilikannya di Vaca Muerta, yang berada di cekungan Neuquen. Nilai aset tersebut diperkirakan mencapai miliaran dolar AS, meski sulit ditentukan secara pasti karena sebagian blok masih belum dikembangkan dan harga komoditas energi sangat fluktuatif.

Para sumber, yang tidak berwenang berbicara secara terbuka, menekankan bahwa rencana penjualan tersebut belum tentu terealisasi. Shell masih memiliki opsi untuk mempertahankan aset-aset itu. Ketika dimintai komentar, Shell menolak memberikan tanggapan.

Jika terjadi penjualan penuh, langkah ini akan menjadi kejutan besar karena Shell merupakan salah satu investor awal di Vaca Muerta. Potensi pelepasan aset ini muncul justru saat minat terhadap wilayah tersebut meningkat, seiring kekhawatiran bahwa sejumlah ladang serpih besar lain, termasuk Permian Basin di Texas dan New Mexico yang saat ini menjadi ladang serpih paling produktif di dunia, mulai mendekati puncak produksinya.

Rencana ini juga mengikuti keputusan Shell untuk keluar dari proyek Argentina LNG, setelah perusahaan migas milik negara Argentina, YPF, memangkas kapasitas rencana proyek tersebut hingga setengahnya.

Shell pertama kali masuk ke Vaca Muerta pada 2012 dan sejak itu memperluas kehadirannya hingga memiliki empat blok lisensi yang dioperasikan dan dimiliki mayoritas, serta kepemilikan minoritas di tiga blok lain yang dioperasikan YPF. Berdasarkan laporan tahunan terbaru, produksi Shell dari Argentina mencapai sekitar 15,6 juta barel pada 2024.

Langkah potensi divestasi ini sejalan dengan strategi restrukturisasi perusahaan di bawah kepemimpinan CEO Wael Sawan, yang diangkat pada 2023 dan diberi mandat untuk meningkatkan kinerja Shell setelah sejumlah investasi perusahaan dalam transisi dari minyak ke energi terbarukan tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Shell juga berencana keluar dari ladang minyak al-Omar di Suriah. Pekan lalu, Reuters mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut sedang menjajaki opsi penjualan untuk kepemilikan sahamnya di proyek LNG Canada.

Ladang Serpih Potensial

Vaca Muerta saat ini menarik perhatian besar dari para produsen migas global yang membutuhkan cadangan baru, di tengah menurunnya potensi ladang-ladang serpih di Amerika Utara, kata Andy McConn, direktur Enverus Intelligence Research.

Berbeda dengan Permian Basin, yang telah dieksplorasi secara intensif sejak ledakan industri serpih AS sekitar dua dekade lalu, baru sekitar 8% wilayah Vaca Muerta yang dikembangkan. Berdasarkan data pemerintah Amerika Serikat, Vaca Muerta diperkirakan menyimpan cadangan gas serpih terbesar kedua di dunia dan cadangan minyak serpih terbesar keempat.

Awal bulan ini, pionir industri serpih AS, Harold Hamm, melalui perusahaannya Continental Resources, mengakuisisi saham minoritas di empat blok Vaca Muerta dari Pan American Energy. Ia menyebut kawasan tersebut sebagai "salah satu ladang minyak serpih paling menarik di dunia" atau salah satu ladang serpih paling menarik di dunia.

Meski produksi Vaca Muerta tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah tantangan mengancam laju pertumbuhan tersebut. Harga minyak yang menurun, biaya produksi yang tinggi, serta keterbatasan infrastruktur transportasi dinilai dapat memperlambat ekspansi.

Dibandingkan dengan Permian Basin, biaya pengeboran satu sumur di Vaca Muerta sekitar 35% lebih mahal, kata Mark Nelson, wakil ketua perusahaan migas AS Chevron, pada November lalu.

Namun demikian, McConn menilai aset Shell di kawasan tersebut tetap sangat kompetitif. Menurutnya, aset-aset itu diperkirakan sudah mencapai titik impas pada harga minyak Brent di bawah 50 dolar AS per barel.

"Aspek ekonomi dan skala seperti itu memberikan keunggulan dibandingkan aset ladang serpih global lainnya.," kata McConn.

 

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Gak Cuma Pertamina, SPBU Ini Juga Pakai Etanol di BBM-nya


Most Popular
Features