RI Masih Impor BBM Bensin 19 Juta KL, Begini Siasat Bahlil
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus berupaya menekan ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya bensin. Mengingat kebutuhan bensin dalam negeri cukup besar, sementara produksi dalam negeri masih kurang.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mencatat kebutuhan bensin nasional saat ini mencapai sekitar 39-40 juta kiloliter (KL) per tahun. Sementara produksi bensin dalam negeri tak lebih dari 14 juta KL.
Hal tersebut lantas membuat Indonesia harus mengimpor bensin dalam jumlah besar. Pada 2025, impor bensin berada di kisaran 24-25 juta KL.
Meski demikian, melalui beroperasinya Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, kapasitas produksi nasional mulai bertambah. Kilang tersebut kini mampu memproduksi tambahan 5,8 juta KL bensin per tahun.
"39 juta KL kurangi 14 juta KL, impor kita pada 2025, kisaran 24 sampai 25 juta KL. Dengan penambahan 5,8 juta KL, maka kurang lebih sekitar 19 juta lebih untuk kita impor di 2026 bensin," kata Bahlil dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI, dikutip Jumat (23/1/2026).
Oleh sebab itu, saat ini pemerintah tengah berupaya untuk mempercepat pengurangan impor bensin. Salah satunya dengan kebijakan mandatori penggunaan etanol sebagai campuran Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin sebanyak 10% (E10)
"Maka kemudian saya membuat, caranya bagaimana agar kita mengurangi impor, langsung kita melakukan mandatori etanol," ujar Bahlil.
Menurut Bahlil, keberhasilan program biodiesel dari B10 hingga B40 sejak 2016 menjadi pembelajaran penting bagi sektor bensin. Adapun, apabila campuran etanol mencapai 10%, pemerintah memperkirakan impor bensin dapat ditekan sekitar 3,9 juta KL per tahun.
"Ini baru kita bicara tentang menuju kepada apa yang disebutkan kemandirian energi. Maka apa yang harus dilakukan? Tidak bisa sekaligus kita lakukan, harus bertahap. Karena kita sudah ketinggalan," kata dia.
(pgr/pgr)[Gambas:Video CNBC]