Jaga Kurs Biar Tak Sampai Rp17.000/US$, BI Disarankan Lakukan Ini

Arrijal Rachman, CNBC Indonesia
Jumat, 23/01/2026 06:40 WIB
Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, mengungkapkan, tekanan kurs rupiah yang beberapa waktu lalu hampir menembus level psikologis baru Rp 17.000/US$, menjadi pembelajaran bahwa selain intervensi pasokan di pasar keuangan, BI juga harus mampu mengelola ekspektasi investor untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Piter mengakui, pergerakan rupiah terhadap dolar sangat dipengaruhi oleh suplai dolar itu sendiri. Maka tak heran ketika BI melakukan intervensi untuk mengendalikan pergerakan kurs rupiah, cadangan devisa alias cadev Indonesia mengalami penyusutan.


"Dolar itu seperti komoditas. Kalau barangnya banyak harganya murah, kalau barangnya sedikit harganya mahal. Ketika suplai dolar rendah, harganya otomatis meningkat. Dampaknya, rupiah otomatis terdepresiasi," ujar Piter melalui keterangan tertulis, dikutip Jumat (23/1/2026).

Di luar itu, Piter menyebut, faktor penting lainnya yang mempengaruhi pergerakan kurs ialah sentimen. Kondisi ini kata dia tak hanya bisa dilakukan dengan intervensi pasokan semata, melainkan harus dikendalikan berdasarkan seberapa mampu Bank Indonesia mempengaruhi ekspektasi para investor atau pemegang dolar.

Oleh sebab itu, langkah-langkah stabilisasi BI, menurut Piter, tidak hanya menjaga pasokan tetapi juga mempengaruhi perilaku pemegang dolar. "Selama ekspektasi negatif masih tinggi, dolar akan terus langka karena pemegangnya tidak mau melepasnya. Intervensi BI diperlukan agar ekspektasi bisa terkendali," katanya.

Sebagaimana diketahui, rupiah akhirnya berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (22/1/2026), setelah sebelumnya sejak awal pekan ini terus bergerak hampir menembus level Rp 17.000/US$.

Merujuk data Refinitiv, rupiah kemarin berakhir di level Rp16.880/US$ atau menguat 0,30% dibandingkan penutupan sebelumnya. Sebagai catatan, pada perdagangan Rabu (21/1/2026), rupiah juga ditutup menguat 0,09% di level Rp16.930/US$.

Rupiah sejatinya sudah menguat sejak pembukaan pagi tadi, dengan apresiasi 0,18% di posisi Rp16.900/US$. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp16.920-Rp16.875/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau relatif stabil di level 98,769, tidak jauh berbeda dari penutupan sebelumnya di 98,761.

Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai faktor pelemahan rupiah awal pekan ini sebagai anomali. Menurutnya, pelemahan rupiah saat ini bukan disebabkan oleh faktor eksternal melainkan karena persoalan ketidakseimbangan suplai dan permintaan dolar di dalam negeri.

"Kalau kita lihat dari faktor pelemahan rupiah, ini memang agak anomali ya, karena dari dalam negeri, sebenarnya likuiditas valas kita itu berlimpah. Terutama berasal dari trade surplus yang terjadi dalam 67 bulan selama beruntun," ujar Myrdal kepada CNBC Indonesia dikutip Rabu (21/1/2026).

Selain surplus perdagangan, kondisi neraca transaksi berjalan atau current account Indonesia juga relatif terjaga. Pada kuartal ketiga 2026 tercatat surplus, sementara pada kuartal IV meskipun berpotensi defisit nilainya diperkirakan masih di bawah 0,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Tak hanya itu, aliran dana asing (capital inflow) menurut Myrdal deras masuk ke pasar keuangan domestik, baik ke pasar saham, surat utang negara (SUN), maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada awal tahun.

"Jadi banyak inflow masuk. Tapi di sisi yang lain, ternyata dari posisi rupiah kita justru melemah," ujarnya.

Namun di sisi lain, permintaan dolar domestik terutama untuk kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri, tidak diimbangi oleh pasokan dolar di dalam negeri.

Menurut Myrdal, hal ini disebabkan oleh perilaku eksportir khususnya dari sektor Sumber Daya Alam (SDA) nonmigas, yang masih menahan devisa hasil ekspor dan belum mengkonversinya ke rupiah.

"Makanya kenapa kalau kita lihat kondisi saat ini, terjadi imbalance antara demand dolar domestik dengan supply dolar domestik. Jadi ada mismatch antara supply dolar dan juga demand dolar domestik. Saat demand domestiknya konsisten tetap atau ada kenaikan sedikit tapi supply dolarnya berkurang, inilah yang membuat kenapa rupiah melemah," ujarnya.

Head of Macro Economic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman menambahkan, pelemahan rupiah awal pekan ini memang lebih dipengaruhi oleh faktor domestik ketimbang global.

Menurutnya, selain masalah global berupa ketegangan geopolitik yang mendorong risk-off sentiment, terdapat risiko dari dalam negeri yang perlu diwaspadai pasar.

"Salah satunya adalah terkait isu independensi BI dan risiko melebarnya twin deficit. Ada dampak negatif karena terkait risiko pada independensi BI," ujar Faisal kepada CNBC Indonesia dikutip Rabu (21/1/2026).


(arj/mij)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Anjlok Saat IHSG Bertahan di Zona Hijau, Apa Sebabnya?