Kupas Tuntas Potensi & Peran EBT Terhadap Ketahanan Energi Nasional
Jakarta, CNBC Indonesia - Pengembangan energi baru terbarukan (EBT) seperti surya, angin, air, dan bioenergi menjadi kunci untuk memperluas akses energi yang bersih dan merata. Investasi sektor EBT terbukti berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja, menekan biaya energi jangka panjang, serta mendukung energi yang lebih inklusif dan pro-people.
Seperti yang diketahui, bauran EBT di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Per 31 Desember 2025, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bauran EBT di Tanah Air mencapai 15,75% dari total pembangkit nasional atau naik 1,1% dibandingkan tahun 2024 yakni sebesar 14,65%.
Kapasitas pembangkit EBT di Indonesia pun telah mencapai 15,63 gigawatt (GW) pada akhir 2025. Angka ini terdiri dari pembangkit listrik tenaga air sebanyak 7,58 GW, diikuti energi bio sebesar 3,14 GW, panas bumi sebesar 2,74 GW, dan surya 1,49 GW. Adapun sisanya berasal dari gasifikasi batubara, angin, sampah, dan lain-lain.
Penambahan kapasitas pembangkit EBT ini didorong oleh realisasi investasi sektor Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) yang tercatat sebanyak US$ 2,4 miliar hingga akhir 2025 lalu.
Capaian ini menjadi bukti komitmen pemerintah dalam menyediakan energi bersih untuk menunjang pertumbuhan ekonomi nasional pada masa mendatang. Untuk ke depannya, peluang bagi Indonesia untuk terus mengembangkan proyek-proyek EBT masih sangat terbuka, mengingat potensi EBT di dalam negeri begitu melimpah.
Data Kementerian ESDM menunjukkan, potensi EBT di Tanah Air mencapai 3.687 GW. Dari situ, tenaga surya menjadi energi terbarukan dengan potensi terbesar di Indonesia yakni sebesar 3.294 GW, disusul angin 155 GW, air 95 GW, bioenergi 57 GW, energi laut 63 GW, dan panas bumi 24 GW. Dengan potensi sebesar itu, Indonesia berpeluang menciptakan pertumbuhan ekonomi dengan berbasis energi hijau.
Di tengah potensi tersebut, tantangan pengembangan EBT tentu tidak main-main. Pasalnya, proyek-proyek EBT membutuhkan teknologi mutakhir yang bakal menelan biaya investasi dalam jumlah besar.
Untuk membahas peran EBT dalam mendukung ketahanan energi nasional, CNBC Indonesia akan menyelenggarakan "Energy Outlook 2026: Exploring Indonesia's Energy Policy: Self-sufficient and Pro-people".
Acara ini juga menghadirkan narasumber dari berbagai pemangku kepentingan, baik dari sisi regulator seperti Kementerian ESDM, serta pelaku usaha, baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun perusahaan swasta, hingga analis dan juga anggota Dewan Energi Nasional (DEN).
Jangan sampai ketinggalan, pantau terus cnbcindonesia.com dan CNBC Indonesia TV untuk update informasi seputar ekonomi dan bisnis!
(dpu/dpu)[Gambas:Video CNBC]