Iring-Iringan Militer Sokongan Saudi Dibom, 5 Orang Tewas
Jakarta, CNBC Indonesia - Situasi keamanan di Yaman kembali memanas setelah sebuah serangan bom menyasar iring-iringan kendaraan kelompok yang bersekutu dengan pemerintah dukungan Arab Saudi. Insiden tragis yang terjadi pada Rabu (21/1/2026) ini menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai tiga lainnya.
Mengutip laporan Al Jazeera, Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Yaman menyatakan bahwa serangan tersebut menargetkan konvoi yang membawa Hamdi Shukri, seorang komandan senior di Brigade Giants (Brigade Raksasa) yang pro-pemerintah.
Kantor berita resmi Saba melaporkan bahwa dewan tersebut mengutuk keras ledakan ini dan menyebutnya sebagai "upaya putus asa" untuk merusak upaya stabilisasi keamanan di Yaman. Padahal, saat ini tengah terjadi "kemajuan nyata" dalam proses perdamaian dengan dukungan Arab Saudi.
Sumber keamanan mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa sebuah bom mobil yang dipasang di pinggir jalan di area Ja'awla, utara Aden, meledak tepat saat konvoi Shukri melintas.
Meskipun serangan tersebut mematikan, Komandan Hamdi Shukri dilaporkan selamat. Sumber medis menyebutkan ia hanya mengalami luka ringan akibat terkena serpihan peluru pada bagian kakinya.
Hingga saat ini, pemerintah Yaman belum menyematkan tuduhan kepada kelompok tertentu sebagai dalang serangan. Namun, mereka menegaskan akan mengambil "langkah praktis dan tegas" untuk mengejar para pelaku dan membongkar jaringan pendukung di baliknya.
"Pemerintah Yaman menyerukan kepada seluruh kekuatan nasional dan komponen politik untuk merapatkan barisan menghadapi kekacauan dan terorisme. Perbedaan politik tidak membenarkan sikap diam saat negara sedang menjadi sasaran," tulis pernyataan resmi Dewan Kepemimpinan tersebut dikutip Jumat (23/1/2026).
Senada dengan pemerintah Yaman, Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) untuk Yaman juga mengecam keras insiden tersebut. Pihak AS menyebutnya sebagai "serangan tanpa alasan terhadap konvoi militer yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman."
Yaman telah terjerumus dalam perang saudara berkepanjangan sejak tahun 2014, ketika pemberontak Houthi yang didukung Iran menggulingkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi dari ibu kota Sanaa.
Kondisi geopolitik di negara ini semakin kompleks. Selain konflik dengan Houthi, internal koalisi juga sempat mengalami ketegangan. Dalam beberapa bulan terakhir, muncul perselisihan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) menyusul bentrokan bersenjata antara pemerintah yang diakui internasional (dukungan Saudi) dengan Dewan Transisi Selatan (dukungan UEA).
Perang di Yaman sejauh ini telah memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, meski belakangan ini upaya diplomasi untuk gencatan senjata permanen terus diupayakan oleh berbagai pihak.
(tps/tfa)