Awas RI Makin Disikut! India Lagi Gerilya Jadi Raja Sepatu Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku industri alas kaki nasional mengingatkan pemerintah agar tidak lengah menjaga iklim usaha di tengah gejolak ekonomi global. Jika persoalan domestik tak segera dibenahi, Indonesia berisiko kehilangan momentum sebagai basis produksi sepatu dunia dan tersalip India yang kini mulai agresif menarik investasi.
Ketua Umum Terpilih Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Anton J Supit, menilai posisi Indonesia di mata pembeli global saat ini masih sangat strategis. Namun, keunggulan itu bisa memudar bila pemerintah gagal memberi kepastian dan sinyal positif bagi dunia usaha.
"Kalau kita tidak bisa maintain dengan baik ini, memberikan signal yang jelek, ya dia kan ada pilihan India," kata Anton usai Musyawarah Nasional Aprisindo di Jakarta, dikutip Kamis (22/1/2026).
Selama ini buyers global hanya berkutat memilih Vietnam dan Indonesia sebagai negara sourcing utama. Namun, India mulai muncul sebagai pemain baru yang serius.
Bila Indonesia terlalu lama menyelesaikan pekerjaan rumah, para pembeli global bisa lebih dulu membangun infrastruktur dan rantai pasok di India, yang pada akhirnya membuat Indonesia sulit merebut kembali investasi yang sudah berpindah.
"Jadi sebenarnya peluang ke sana besar. Realitas memang sangat dipengaruhi kondisi geopolitik, kita berharap terjadi perdamaian, tetapi buyers kan berharap cepat. Karena kalau dia baru putuskan setelah keadaan semua aman, dia ketinggalan," ujarnya.
Kekhawatiran ini diperkuat kondisi pasar global yang belum menunjukkan pemulihan berarti. Wakil Ketua Umum Aprisindo Harijanto menyebut ketidakpastian geopolitik masih menjadi tekanan utama bagi industri sepatu dunia, mulai dari perang Ukraina, ketegangan Timur Tengah, hingga konflik internasional lain yang memukul ekonomi Eropa dan Amerika Serikat.
Dia memperkirakan hingga akhir 2027 industri sepatu nasional masih akan bergerak lambat dengan utilisasi pabrik hanya di kisaran 60-70%. Kondisi ini membuat investasi baru cenderung minim karena kapasitas terpasang yang ada masih mencukupi.
"Jadi kalau menurut saya ini sampai akhir tahun 2027 mungkin masih, menurut saya akan slow, kapasitas terpasang kita paling hanya 60 sampai 70%. Jadi investasi baru itu mungkin akan kecil karena utilisasi, fasilitas yang ada itu masih cukup tinggi gitu," kata Harijanto.
Selain tekanan global, industri alas kaki juga dibebani persoalan struktural di dalam negeri. Harijanto menyoroti tingginya porsi biaya tenaga kerja atau labor cost yang mencapai 18-28%, jauh di atas sektor berteknologi tinggi seperti otomotif yang hanya sekitar 7-8%. Beban ini semakin berat karena diiringi ketidakpastian regulasi ketenagakerjaan.
Tak hanya itu, persoalan perizinan lahan dan AMDAL yang berlarut-larut juga membuat pembangunan pabrik bisa memakan waktu bertahun-tahun. Di sisi lain, lemahnya industri pendukung menyebabkan banyak komponen masih harus diimpor dari Vietnam dan China, sehingga nilai tambah yang dinikmati Indonesia menjadi terbatas.
"Waktu ekspor kita US$ 2 miliar, industri pendukungnya tetap sama. Sekarang US$ 7 miliar, (industri pendukung) tidak ada yang tumbuh. Makanya itu tekstil, leather synthetic, semua dari Vietnam, China. Nah ini sebetulnya added value kita jadi kecil," kata Harijanto.
Mengutip data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Indonesia dan India masuk jajaran negara dengan produksi alas kaki terbesar di dunia. Mengutip data tahun 2021, China masih menjadi 'Raja' produsen alas kaki dunia dengan produksi 12 miliar pasang atau menguasai 54,1% market dunia. Sedangkan India berada di peringkat kedua dengan produksi 2,6 miliar pasang atau 11,7% market dunia.
Posisi ketiga ditempati Vietnam dengan angka 1,3 miliar pasang atau 6,1% market dunia. Barulah Indonesia berada di posisi keempat dengan produksi 1 miliar pasang atau 4,9% market dunia.
(fys/wur)