Dorong Investasi, RI Pamerkan Sektor Prioritas Unggulan di WEF 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - World Economic Forum (WEF) 2026 menjadi ajang bagi Indonesia untuk unjuk gigi mengenalkan sektor prioritas unggulan nasional. Terlebih, kondisi ekonomi dan politik yang stabil di Indonesia bisa menjadi keunggulan utama di tengah ketidakpastian geopolitik saat ini.
Dalam konteks ini, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM memiliki beberapa peluang investasi keunggulan yang akan diperkenalkan ke investor global. Mulai dari, keunggulan terbesar Indonesia berada pada sumber daya alam, baik berupa mineral ataupun hasil pangan dan perikanan.
Sebagaimana diketahui, realisasi investasi sepanjang Januari hingga Desember 2025 sebesar Rp1.931,2 triliun atau 101,3 %, melebihi target dari Presiden yakni Rp1.905,6 triliun. Kemudian, kontribusi hilirisasi mencapai 30,2 % dengan nilai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 % secara tahunan.
Pada akhirnya, raihan tersebut menjadi penegasan ketahanan iklim investasi nasional sekaligus memperkuat peran investasi sebagai motor pertumbuhan ekonomi dan juga menciptakan lapangan pekerjaan.
Untuk itu, Sekretaris Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Sekretaris Utama BKPM, Rudy Salahuddin menuturkan, pihaknya berharap target realisasi investasi yang lebih besar pada 2026 akan tercapai. Dalam hal ini, Pemerintah tengah memfokuskan untuk hilirisasi di sektor-sektor perkebunan seperti kokoa, kelapa, dan lainnya.
"Termasuk juga budidaya perikanan, perikanan tangkap. Jadi ada perikanan tangkap, ada perikanan budidaya, nila, tongkol, cakalang, tuna dan lain sebagainya," ujar dia dalam program Closing Bell CNBC Indonesia, Selasa (20/01/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi & Hilirisasi/BKPM, Nurul Ichwan menjelaskan, pihaknya juga ingin memfokuskan pada optimalisasi cadangan sumber daya mineral untuk memenuhi kebutuhan hilirisasi. Sebagai contoh, Indonesia memiliki cadangan nikel sekitar 42% dari cadangan global. Dari situ, pemerintah terus memperkuat hilirisasi nikel untuk memenuhi kebutuhan bahan baku stainless steel maupun baterai.
"Pada saat ini tren penggunaan atas nikel baik itu untuk stainless steel maupun untuk baterai berbasis nikel itu juga masih hype sampai sekarang, sehingga itu masih terus kita dorong. Harapannya bahwa kita punya lebih banyak pelaku-pelaku usaha untuk hilirisasi di sektor nikel khususnya yang berbasis atas baterai nikel," terang dia.
Tak hanya nikel, hilirisasi komoditas timah juga terus didorong oleh Pemerintah. Sebab, Indonesia memiliki cadangan timah kedua terbesar di dunia. Begitu juga dengan komoditas bauksit yang terus diprioritaskan untuk agenda hilirisasi selain nikel.
"Karena ke depan ini begitu kita bicara bauksit, bukan hanya bauksit sebagai aluminium-nya saja nantinya, tetapi dia menjadi bagian mendukung untuk energi baru terbarukan. Dibutuhkan logam-logam tersebut untuk membangun energi baru terbarukan," jelasnya.
Lebih jauh, dia menjelaskan, Indonesia membutuhkan lebih banyak para pelaku usaha global untuk berinvestasi di Tanah Air, khususnya untuk mendukung agenda hilirisasi. Salah satunya China yang sudah masuk berinvestasi di Indonesia.
Dengan demikian, hadirnya Indonesia pada World Economic Forum 2026 diharapkan bisa membuka pintu terhadap datangnya investasi global pada sektor prioritas nasional, sehingga target investasi 2026 bisa kembali terpenuhi bahkan melebihi ekspektasi seperti tahun 2025.
(dpu/dpu)