MARKET DATA
Internasional

Krisis! Tingkat Kelahiran China Pecahkan Rekor Terendah

tfa,  CNBC Indonesia
20 January 2026 21:30
Para perempuan berlatih dengan boneka bayi plastik saat mereka mengikuti kelas keterampilan keperawatan untuk perawat kurungan, di pusat pelatihan Yipeitong di Shanghai, Tiongkok, 2 Maret 2023. (REUTERS/Aly Song/File Foto)
Foto: Para perempuan berlatih dengan boneka bayi plastik saat mereka mengikuti kelas keterampilan keperawatan untuk perawat kurungan, di pusat pelatihan Yipeitong di Shanghai, Tiongkok, 2 Maret 2023. (REUTERS/ALY SONG/File Foto)

Jakarta, CNBC Indonesia - China mencatat penurunan angka kelahiran ke level terendah sepanjang sejarah pada 2025. Situasi ini menegaskan semakin dalamnya krisis demografi di negara dengan perekonomian terbesar kedua dunia tersebut.

Biro Statistik Nasional China melaporkan angka kelahiran turun menjadi 5,63 per 1.000 penduduk pada 2025, lebih rendah dibanding rekor sebelumnya pada 2023 sebesar 6,39 per 1.000 penduduk. Data ini menunjukkan bahwa kenaikan kelahiran pada 2024 hanya bersifat sementara dan bukan pembalikan tren penurunan yang telah berlangsung sejak 2016.

Sepanjang 2025, China mencatat sekitar 7,92 juta kelahiran, sementara jumlah kematian mencapai 11,31 juta. Alhasil, populasi menyusut sekitar 3,39 juta orang menjadi sekitar 1,4 miliar jiwa, menjadikan China tetap sebagai negara berpenduduk terbesar kedua di dunia setelah India.

Penuaan penduduk juga kian nyata. Populasi berusia di atas 60 tahun mencapai 323 juta orang atau sekitar 23% dari total penduduk, naik satu poin persentase dibanding 2024. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproyeksikan separuh penduduk China akan berusia di atas 60 tahun pada 2100.

Penurunan angka kelahiran ini menjadi pukulan bagi upaya Beijing membalikkan dampak kebijakan satu anak yang diberlakukan selama puluhan tahun. Meski kebijakan tersebut dihapuskan pada 2016, biaya hidup tinggi, ketidakpastian pekerjaan, serta beban pengasuhan anak yang dinilai tidak seimbang membuat generasi muda enggan menikah dan memiliki anak.

Pemerintah pusat China kini menawarkan berbagai insentif, mulai dari bonus tunai bagi keluarga dengan anak di bawah usia tiga tahun, penyederhanaan pendaftaran pernikahan, hingga penyediaan prasekolah umum gratis. Namun, para analis menilai langkah-langkah tersebut belum cukup untuk membalikkan tren struktural.

"Anak-anak adalah 'konsumen super'. Dengan angka kelahiran yang sangat rendah, permintaan domestik China kemungkinan akan tetap lemah," ujar Yi Fuxian, ahli demografi dan ilmuwan senior di Universitas Wisconsin-Madison, seperti dikutip CNN International, Selasa (20/1/2026).

Ekonomi Tetap Tumbuh

Di tengah tekanan demografi, ekonomi China tetap mencatat pertumbuhan sesuai target pemerintah. Produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 5% pada 2025, sejalan dengan sasaran tahunan pemerintah sebesar "sekitar 5%".

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh lonjakan ekspor yang menutupi lemahnya konsumsi domestik. Sepanjang 2025, China membukukan surplus perdagangan sebesar US$1,2 triliun atau sekitar Rp20.335 triliun, meski hubungan dagang dengan Amerika Serikat (AS) diwarnai ketegangan dan kenaikan tarif.

Namun, data juga menunjukkan perlambatan ekonomi di akhir tahun. Pada kuartal IV-2025, pertumbuhan hanya mencapai 4,5% secara tahunan, menjadi laju paling lambat sejak akhir 2022.

Kepala Biro Statistik Nasional China, Kang Yi, menyebut kinerja tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi di tengah tekanan global dan domestik.

"Pada 2025, ekonomi China mampu menahan tekanan dan mempertahankan kemajuan yang stabil, mencapai hasil baru dalam pembangunan berkualitas tinggi," kata Kang dalam konferensi pers.

Meski demikian, sejumlah indikator domestik masih lemah. Penjualan ritel pada Desember hanya tumbuh 0,9%, lebih rendah dibanding 1,3% pada November. Investasi aset tetap juga terkontraksi 3,8% sepanjang tahun, dengan sektor properti anjlok hingga 17,2%.

Ke depan, Beijing diperkirakan akan menetapkan target pertumbuhan baru pada Maret mendatang. OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi 4,4% pada 2026, sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan sekitar 4,5%.

(tfa/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 2 Juta Orang Hilang, Krisis Besar Menghantam China


Most Popular
Features