MARKET DATA

Isi Pidato Sekjen PBB 'Tampar' Pemimpin Dunia

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
16 January 2026 11:50
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres di KTT ASEAN, Kamis, (7/9/2023). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres di KTT ASEAN, Kamis, (7/9/2023). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, melontarkan kritik keras kepada para pemimpin dunia dalam pidato tahunan terakhirnya di hadapan Sidang Umum PBB. Ia menilai dunia sedang bergerak menjauh dari kerja sama internasional di saat solidaritas global justru paling dibutuhkan.

Berbicara di forum Majelis Umum PBB pada Kamis (15/1/2026) waktu setempat, Guterres menyebut para pemimpin global terjebak dalam perpecahan geopolitik yang kontraproduktif serta melakukan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Menurutnya, pemangkasan besar-besaran terhadap bantuan pembangunan dan kemanusiaan telah mengguncang fondasi kerja sama global dan menguji daya tahan multilateralisme.

"Di saat kita paling membutuhkan kerja sama internasional, justru kita tampak paling enggan memanfaatkannya dan berinvestasi di dalamnya. Bahkan ada yang ingin menempatkan kerja sama internasional di ruang tunggu kematian," ujar Guterres, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (16/1/2026).

Meski tidak menyebut negara secara langsung, pernyataan Guterres dinilai menyasar kebijakan pemotongan anggaran lembaga PBB oleh Amerika Serikat di bawah agenda America First Presiden Donald Trump. Pemerintah AS sebelumnya mengumumkan hanya akan mengalokasikan sekitar US$2 miliar untuk bantuan kemanusiaan PBB, jauh lebih kecil dibanding kontribusi sebelumnya yang pernah mencapai US$17 miliar.

Kebijakan tersebut diperparah dengan pembongkaran lembaga utama bantuan luar negeri AS, USAID, yang disebut Guterres sebagai sinyal melemahnya komitmen terhadap solidaritas global. Lembaga-lembaga PBB bahkan didorong untuk "beradaptasi, mengecil, atau mati".

Fokus Konflik Global

Dalam pidato yang menjadi penutup agenda tahunan selama masa jabatannya, Guterres menegaskan PBB tetap berkomitmen penuh pada perdamaian di Gaza, Ukraina, dan Sudan, serta wilayah konflik lain di dunia. Ia menuntut agar bantuan kemanusiaan diizinkan mengalir tanpa hambatan ke Gaza, mendesak upaya maksimal untuk menghentikan perang Rusia-Ukraina, dan menyerukan dimulainya kembali perundingan gencatan senjata permanen di Sudan.

Ketiga konflik berkepanjangan tersebut kerap dianggap sebagai cerminan tantangan terbesar PBB di bawah kepemimpinan Guterres. Kritik pun mengemuka bahwa organisasi global itu belum efektif dalam mencegah konflik sejak dini.

Guterres juga menyinggung kondisi Dewan Keamanan PBB yang dinilai lumpuh akibat ketegangan antara Amerika Serikat, Rusia, dan China. Ketiganya merupakan anggota tetap dengan hak veto, yang kerap saling mengunci keputusan strategis.

(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Boikot Global Terhadap Israel Makin Meledak, Ini Dampaknya


Most Popular
Features